ahlan wa sahlan

Semoga bermanfaat," Sampaikanlah Walau Hanya Satu Ayat"

Rabu, 20 Juni 2012

pengamatan dan deskripsi profil tanah







I.                   PENDAHULUAN


             Latar Belakang

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

Tanah berbentuk berlapis-lapis diatas batuan terkonsolidasi sebagai akibat interaksi dari bahan induk, iklim, makhluk hidup, topografi, pada periode waktu tertentu. Walaupun disebut batas bawah dari tanah tidak bisa terdefinisikan, tetapi batas bawah tersebut dapat ditandai dengan batas aktifitas biologi, seperti perakaraan dan kehidupan mikroba tanah.

Profil tanah dapat di definisikan sebagai penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri dari lapisan tanah (solum) dan lapisan tanah induk. Solum sendiri merupakan bagian dari profil tanah yang terletak akibat proses pembentukan tanah (horizon A dan B). Sedangkan horizon tanah adalah lapisan-lapisan yang dihasilkan selama pembentukan tanah, yaitu :
·         Horizon A             : (Eluvial = tercuci keluar)
-          berada dipermukaan.
-          dicirikan sebagai zona dimana terjadi pencucian maksimum.
·         Horizon B             : (Iluvial = menumpuk)
Lapisan dimana terjadi penimbunan dari atas maupun bawah (Al oksida, besi oksida, liat silikat).
·         Horizon C             : (Bahan Induk)
-          kurang mengalami hancuran
-          sama atau kurang lebih serupa dengan bahan darimana horizon A dan B berasal.

      (Henry. D. Foth. 1994)

Pendekatan pengkajian tanah terkait erat dengan bidang-bidang yang membutuhkan keterangan mengenai sistem tanah untuk menunjang kegiatannya. Pengkajian tanah dibidang pertanian secara umum dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu (1) pendekatan pedologis, (2) pendekatan endopologis, dan (3) pendekatan rekayasa.
Pengkajian tanah secara pendologis dilakukan dengan memandang tanah sebagai suatu tubuh alam sendiri dengan sejumlah ciri khas yang dapat digunakan untuk memisahkannya dari tubuh alam lain. Pengkajian tanah secara endopologis dilakukan dengan memandang tanah sebagai suatu sistem yang merupakan bagian dari sistem alam raya. Pendekatan kerekayasaan menitikberatkan pada masalah pemahaman sistem tanah sebagai suatu bahan alam untuk menunjuakan pekerjaan rekayasa.
       (Poerwowidodo. 1991)


Profil tanah tebalnya berlainan mulai dari yang setipis selaput sampai yang setebal 10 meter. Pada umumnya tanah semaikn tipis mendekati kutub dan semakin tebal mendekati khatulistiwa. Ukuran profil tanah dimulai dengan menentukan letak batas horizon, mengukur dalamnya dan mengamati profil tanah secara keseluruhan. Pada dasarnya horizon tanah mempunyai ciri-ciri yang juga dihasilkan oleh proses genese tanah. Profil tanah yang akan diamati ciri-cirinya harus memenuhi syarat-syarat : (1) tegak (vertikal). (2) baru, artinya belum terpengaruh keadaan luar, dan (3) jangan memantulkan cahaya.
Warna tanah merupakan pernyataan : (a) jenis dan Kadar bahan organik, (b) keadaan drainase dan aerasi tanah dalam hubungan dengan hidratasi, oksidasi, dan proses pelindian, (c) tingkat perkembangan tanah, (d) kadar air tanah termasuk pula dalamnya permukaan air tanah, dan atau (e) adanya bahan-bahan tertentu.

(M. Isa Darmawijaya. 1992)






             Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
  • Untuk mengetahui profil tanah
  • Untuk mengetahui warna tanah
  • Untuk mengetahui struktur tanah



















II.                METODE PERCOBAAN



A. Alat dan Bahan
1. Pengamatan Profil Tanah
·         Cangkul
·         Pisau tanah
·         Meteren
·         Munsell Soil Colour Chart
·         Pedoman analisis/penentu sifat tanah di lapang
·         Air
2. Pengamatan Warna Tanah
·         Contoh tanah
·         Air
·         Munsell Soil Colour Chart
3. penetapan struktur tanah
·         Contoh tanah agregat utuh
·         Air
·         Penetapan penentuan struktur tanah







B. Cara Kerja
1. Pengamatan Profil Tanah
·         Dibuat tusukan-tusukan/congkelan-congkelan dengan pisau unutk mengetahui perbedaan kekerasan tanah
·         Perbedaan kekerasan dan warna digunakan untuk menarik lapisan pada penampang tanah
·         Setiap lapisan / horizon ditentukan tebalnya dan diberi nomor dan symbol
·         Kemudian berturut-turut setiap lapisan ditentukan warna dan strukurnya
·         Mengukur kedalaman efektif tanah tersebut dengan menggunakan meteran.
2. Pengamatan Warna Tanah
·         Mengambil segumpal contoh tanah beri air hingga cukup lembab
·         Meletakan gumpalan contoh tanah tersebut dibawah libang kertas munsell dengan jari / pisau tanah
·         Mencocokan warna matriks tanah dengan warna pada munsell
·         Setelah warba sesuai, catat kilap (Hue), nilai (Volue) dan chromnya.

3. penetapan struktur tanah
·         Mengambil segumpal tanah (sedapat mungkin keadaan lembab) sebesar sekitar 10 cm
·         Memecahkan dengan tekanan jari
·         Menentukan bentuk struktur dan ukurannya berdasarkan tabel penentuan struktur tanah.



















III.       HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAAN





3.1 Hasil Pengamatan

lapisan
kedalaman
ketebalan
struktur
warna
nama warna

(cm)
(cm)



1
0 - 22
22
remah
2,5 YR 4/3
Reddish brown
2
22 - 37
15
gumpal
2,5 YR 3/6
dark red
3
37 - 49
12
gumpal
2,5 YR /4
dark reddish
4
49 - 144
65
gumpal
2,5 YR /6
brown (CT2)



berstruktur

red





3.2 Pembahasaan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa lapisan tanah sebagai berikut :
  • Lapisan 1 dengan kedalaman 0 – 22 cm dengan tipe struktur remah berlokasi pada horizon A.
  • Lapisan 2 dengan kedalaman 22 – 37 cm dengan tipe struktur gumpal berlokasi pada horizon A.
  • Lapisan 3 dengan kedalaman 37 – 49 cm dengan tipe struktur gumpal berlokasi pada horizon A.
  • Lapisan 4 dengan kedalaman 49-144 cm dengan tipe struktur gumpal berstruktur berlokasi pada horizon A.

Pada lapisan 1 notasi munsell yang didapat adalah 2,5 YR 4/3 yang berarti 2,5 YR adalah hue, 4 adalah value dan 3 adalah chroma, dengan nama warna Reddish brown (cokelat-kemerahan). Pada lapisan 2 notasi munsell yang didapat adalah 2,5 YR 3/6 dengan nama warna dark red (merah kelam). Pada lapisan 3 notasi munsell yang didapat adalah 2,5 YR/4 dengan nama warna dark reddish (kemerahan kelam). Pada lapisan 4 notasi munsell yang didapat adalah 2,5 YR / 6 dengan nama warna brown (CT2) red (merah cokelat).

Tanah dengan struktur remah memiliki sifat-sifat sebagai berikut : relatif berpori, tanah kecil dan bulat dan tidak cocok dengan agregat yang berdampingan. Tanah dengan struktur gumpal memiliki sifat-sifat yaitu ukuran agregat vertikal horizontal sama besar, berbentuk kubus dengan sudut membulat, sumbu vertikal sama dengan sumbu horizontal dan agregat berpegang erat dengan yang lainnya. Tanah dengan struktur gumpal berstruktur memiliki sifat yang sama dengan tanah gumpal hanya memiliki tambahan sifat yaitu berbentuk kubus dengan sudut tumpul membentuk cetakan untuk tanah.


Dari data yang diperoleh dapat dijelaskan bahwa keempat lapisan tanah tersebut berada pada horizon A. Ciri-ciri yang dapat dilihat dari horizon A yaitu merupakan akumulasi humus, berwarna gelap, tempat terjadi proses eluviasi (pencucian), dan kaya akan bahan organik.

Perbedaan warna tanah yang diperoleh dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kandungan bahan organik, tingkat perkembangan tanah, dan kandungan mineral tertentu. Dari data tersebut diketahui bahwa lapisan 1 yang berada pada horizon A berwarna coklat kemerahan. Hal tersebut disebabkan karena bahan pembentuk horizon A tersebut adalah bahan organik. Pada umumnya bahan organik memberi warna kelam pada tanah. Makin stabil bahan organik maka semakin tua warnanya. Pada lapisan 2 yang berada pada horizon A berwarna merah kelam. Hal ini disebabkan pada lapisan 2 memiliki kandungan bahan organik dan humus yang tinggi sehingga warnanya menjadi lebih kelam dibandingkan lapisan 1 dan lapisan 4. pada lapisan 3 yang berada pada horizon A berwarna kemerahan kelam juga memiliki kandungan bahan organik dan humus yang tinggi. Humus yang stabil akan memberikan warna hitam pada tanah. Berbeda dengan lpisan 4, pada lapisan ini warnanya lebih terang. Hal ini isebabkan karena tanah ini mengandung bahan organik busuk tinggi tetapi bahan dasar tertentu lainnya seperti oksidasi besi atau penimbunan garam memodifikasi warna sehingga warnanya menjadi lebih terang dibandingkan lapisan tanah lainnya..














































IV.             KESIMPULAN




  1. Dari data yang diperoleh dapat dijelaskan bahwa keempat lapisan tanah tersebut berada pada horizon A. Ciri-ciri yang dapat dilihat dari horizon A yaitu merupakan akumulasi humus, berwarna gelap, tempat terjadi proses eluviasi (pencucian), dan kaya akan bahan organik.

  1. Perbedaan warna tanah yang diperoleh dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kandungan bahan organik, tingkat perkembangan tanah dan kandungan mineral tertentu.

3. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa lapisan tanah sebagai berikut :
* Lapisan 1 dengan kedalaman 0 – 22 cm dengan tipe struktur remah berlokasi pada horizon A.
* Lapisan 2 dengan kedalaman 22 – 37 cm dengan tipe struktur gumpal berlokasi pada horizon A.
* Lapisan 3 dengan kedalaman 37 – 49 cm dengan tipe struktur gumpal berlokasi pada horizon A.
* Lapisan 4 dengan kedalaman 49 -- 144 cm dengan tipe struktur gumpal   berstruktur berlokasi pada horizon A.

















DAFTAR PUSTAKA




Darmawijaya, M. Isa. Dr. Ir. 1992. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University
Press : Yogyakarta.

Foth. D. Henry. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga : Jakarta


Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah. Rajawali Press : Jakarta

Tim Penyusun DDIT. 2008. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
            Universitas Lampung : Bandar Lampung.

.















DAFTAR PERTANYAAN


1.      Mengapa dalam memilih tempat untuk membuat profil tanah harus alami ?
Jawab :
Dalam memilih tempat untuk membuat profil tanah harus alami agar mudah untuk mengamati dan mengetahui profil tanah, mudah untuk menentukan lapisan-lapisan tanah, mempermudah dalam mengambil sampel tanah. Jika penampang bersifat tidak alami maka akan mempersulit dalam pengamatan karena profil tanah tersebut sudah tercampur dengan unsur-unsur alam.

2.      Mengapa penampang pengamatan profil tanah harus dipilih pada sisi lubang penampang yang mendapat sinar matahari ?
Jawab :
Karena dengan adanya sinar matahari kita dapat melihat lebih jelas lapisan-lapisan profil tanah, mempermudah dalam membedakan lapisan-lapisan tanah, dengan memperhatikan perbedaan warna, tekstur dan struktur tanah. Warna tanah setiap tanaman berbeda, jika yang dipilih yang terkena matahari, maka cenderung sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar