ahlan wa sahlan

Semoga bermanfaat," Sampaikanlah Walau Hanya Satu Ayat"

Selasa, 05 Juni 2012

HUBUNGAN MIKROBIOTA DENGAN LARUTAN TANAH (Tugas Biologi dan Kesehatan Tanah)


HUBUNGAN MIKROBIOTA DENGAN LARUTAN TANAH
(Tugas  Biologi dan Kesehatan Tanah)








Disusun Oleh

Yoga Herianto                         0914013058
Darso Waluyo                         0914013084















PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2011



Larutan tanah adalah fase cairan yang mengandung air dari tanah dan larutan-larutannya.
Air-tanah : air di bawah permukaan tanah yang terdapat dalam keadaan jenuh
dalam seluruh pori-pori tanah, juga tempat antara dan dalam batuan. Salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi aktivitas mikroorganisme dalam tanah adalah air, Air merupakan komponen variabel tanah, keberadaannya bergantung pada komposisi tanah, curah hujan, drainase/aliran udara, dan penutupan tumbuhan. Air terperangkap dalam tanah dengan dua cara, yaitu : melalui adsorpsi
pada permukaan tanah atau sebagai air bebas seperti lembaran tebal atau lapisan tipis di antara partikel tanah. Air dalam tanah memiliki berbagai bahan yang terlarut di dalamnya; keseluruhannya bercampur menjadi larutan tanah. Dalam tanah berdrainase-baik, tekanan air cepat dan konsentrasi oksigen menjadi cukup tinggi. Dalam tanah rawa, hanya terdapat oksigen yang terlarut dalam air, dan segera dikonsumsi oleh mikroorganisme tanah. Tanah demikian akan cepat bersifat anaerobik, memperlihatkan perubahan yang sangat cepat dalam komponen biologiknya.
Bagaimanapun, terdapat bukti bahwa aktivitas metabolik mikroorganisme terkubur tersebut pada periode yang sangat panjang mampu melakukan mineralisasi senyawa organik dan melepaskan produknya ke dalam air tanah. Kemampuan mikroorganisme tersebut dalam hal katabolisme senyawa toksik yang terlepas dari tanah ke dalam air tanah (misalnya, benzen, bahan kimia pertanian, dll), saat ini menjadi perhatian khusus.

Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk hidupnya,
biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau kelembaban relatif. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada aw 0,998-0,6. bakteri umumnya memerlukan aw 0,90- 0,999. Mikroba yang osmotoleran dapat hidup pada aw terendah (0,6) misalnya khamir Saccharomyces rouxii. Aspergillus glaucus dan jamur benang lain dapat tumbuh pada aw 0,8. Bakteri umumnya memerlukan aw atau kelembaban tinggi lebih dari 0,98, tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0,75. Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora, konidia atau dapat membentuk kista.
Tabel berikut ini memuat daftar aw yang diperlukan oleh beberapa jenis bakteri dan jamur :
Nilai aw
Bakteri
Jamur
1,00
Caulobacter
Spirillum

0,90
Lactobacilus
Bacillus
Fusarium
Mucor
0,85
Staphylococcus
Debaromyces
0,80

Penicillium
0,75
Halobacterium
Aspergillus
0,60

Xesromyce

Tekanan osmose sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air.
Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami
plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat
mengkerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah.
Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi
(1) mikroba osmofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi, (2) mikroba halofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi,
 (3) mikroba halodurik, adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati)
tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar garamnya dapat mencapai 30%.
Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. Khamir osmofil mampu
tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % wt/wt (aw = 0,94). Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium, misalnya
Halobacterium. Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi, umumnya  mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer, dinding selnya terdiri dari murein, sehingga tahan terhadap ion Natrium.
Selain itu, Hiltner pada tahun 1904 menggambarkan rizosfer sebagai bagian dari tanah yang secara langsung dipengaruhi oleh substansi yang dikeluarkan dari akar ke dalam larutan tanah, sehingga tercipta kondisi yang menyenangkan bagi bakteri tertentu (Bruehl, 1987).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar