ahlan wa sahlan

Semoga bermanfaat," Sampaikanlah Walau Hanya Satu Ayat"

Selasa, 05 Juni 2012

ENGENDALIAN HAMA SETELAH PERANG DUNIA KE II REVOLUSI PENGENDALIAN HAMA OLEH DDT DAN PESTISIDA ORGANIK SINTETIK LAINNYA


PENGENDALIAN HAMA SETELAH PERANG DUNIA KE II
REVOLUSI PENGENDALIAN HAMA OLEH DDT DAN PESTISIDA ORGANIK SINTETIK LAINNYA


Pada saat perang dunia I yang terjadi di Eropa, yang menjadi masalah bukanlah hama yang penting, hanya seperti kutu dan lalat. Tetapi pada perang dunia II suatu masalah besar terjadi,hal ini dikarenakan perang terjadi di wilayah tropis dan serangga vektor penyakit seperti malaria dan DBD menjadi ancaman yang serius bagi pasukan perang. Sehingga Amerika dan sekutu mengembangkan suatu zat yang dapat digunakan untuk menghentikan serangga penyebab penyakit ini. Amerika menemukan DDT, Jerman menggunakan organofosfat, Swiss dengan karbamatnya. Tujuan awal dari penggunaan pestisida ini adalah untuk mengendalikan serangga penyebab penyakit, tetapi setelah perang terjadi pabrik-pabrik pestisida menemukan suatu target pemasaran yang baru, yaitu pertanian. Para petani merespon dengan baik karena selain harganya murah, efektif dalam jumlah yang kecil juga sifat toksiknya menyebar luas. Ledakan industri pestisida pun tak dapat dihindari. Pada awalnya para petani membuat sendiri pestisida dengan belajar secara otodidak dari majalah dll, tetapi industri-industri pestisida kecil mulai berkembang. Selain mengenalkan herbisida selektif, mereka juga mengenalkan alat penyemprotnya. Akibat dari adanya pestisida tersebut, pandangan para petani tentang serangga berubah. Pada awalnya mereka berniat untuk mengendalikan, tapi yang terjadi selanjutnya adalah pemusnahan serangga dan gulma secara 100%. Cara-cara preventif pengendalian hama mulai dilupakan, seperti rotasi tanaman, penggunakaan musuh alami, penggenangan dll. Banyak palajar dan peneliti bekerja meneliti tentang senyawa pestisida. 

Pestisida pun menimbulkan bencana. Pertama, resistensi hama terhadap pestisida. Bayak laporan yang menyatakan peningkatan resistensi hama penting di suatu wilayah terhadap suatu jenis pestisida. Serangga melakukan perubahan genetik yang menyebabkan mereka menjadi resisten. Berikutnya adalah resurjensi hama target.
Setelah disemprot menggunakan insektisida modern, populasi hama menurun secara drastis, namun kemudian meningkat jauh labih tinggi dari sebelum disemprot. Hal ini terjadi karena insektisida yang berspektrum luas selain membunuh hama, juga membunuh musuh alami. Musih alami yang dapat bertahan akan mati juga karena tidak tersedianya makanan. Selain itu juga mereka akan migrasi ke tempat yang tersedia makanan. Saat musuh alami tidak ada, hama mulai ada dan tumbuh dengan cepat karena makanan tersedia dengan melimpah tanpa adanya ancaman musuh alami. Itulah yang menyebabkan hama meninggkat setelah penyemprotan. Selanjutnya yaitu meningkatnya hama sekunder. Hama sekunder merupakn spesies herbivora yang jumlahnya meningkat sampai taraf yang merusak.  Ini terjadi karena matinya musuh alami yang mengendaliakan mereka secara biologis. Masalah yang terakhir adalah kontaminasi lingkungan. Walaupun penggunaan pestisida berbahaya seperti DDT teleh dihentikan, tetapi efeknya masih tersisa dan menjadi masalah baru baik bagi lingkungan sekitar maupun manusia itu sendiri. Pengendalian hama terpadu harus didasarkan pada pengendalian biologis dan budaya yang dapat menekan penyalahgunaan pestisida.




Kesimpulan:
Jangan mengatasi suatu masalah secara berlebihan, karena jika berlebihan akan menimbulkan masalah baru. Gunakanlah segala sesuatu sewajarnya saja sesuai dengan kebutuhan.




Darso Waluyo
0914013084


KESUBURAN TANAH

Darso Waluyo         0914013084
Evi Oktavia             0714011032

P1U3
(N+P+K+Kapur+Mulsa+Pupuk Kandang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar