ahlan wa sahlan

Semoga bermanfaat," Sampaikanlah Walau Hanya Satu Ayat"

Selasa, 05 Juni 2012

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN KUALITATIF PADI (Oriza sativa L) dan SORGUM (Shorgum bicolor) PADA LABORATORIUM PERCOBAAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG ( Laporan Praktikum Survei Tanah dan Evaluasi Lahan )






EVALUASI KESESUAIAN LAHAN KUALITATIF PADI (Oriza sativa L) dan SORGUM (Shorgum bicolor) PADA LABORATORIUM PERCOBAAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
( Laporan Praktikum Survei Tanah dan Evaluasi Lahan )



Disusun Oleh
(Kelompok 3)

Anggita Cheriani                     0914013075
Annisah Fajar M                     0915013076
Dani Bayu Aji RN                  0914013082
Darso Waluyo                         0914013084
Daud Maulana                        0914013085
Deciana                                   0914013086
Dian Mahdirini                        0914013088








PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2011




I  PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

Survai tanah merupakan istilah umum utk penyelidikan tanah sistematik dilapangan di laboratorium deskripsi klasifikasi pemetaan jenis tanah penafsiran (interpretasi) tanah menurut kesesuaian tanah bagi tanaman rumput pohon serta perilaku tanah dibawah pemakaian atau perlakuan utk produktivitas dalam pengelolaan yg berbeda-beda.

Survai tanah dilakukan utk menentukan tingkat kemampuan lahan secara keseluruhan sebagai bahan pemetaan tanah dalam hubungan dgn penentuan klasifikasi tanah. Lahan-lahan yg telah disurvai digolongkan dala kelas-kelas yg sesuai dgn kemampuan berdasarkan dgn faktor-faktor yg bersifat menghambat dalam pemanfaatan lahan tersebut terutama utk bidang pertanian.

Faktor-faktor yg menunjang adl data-data mengenai sifat fisik kimia dan biologi tanah termasuk bentuk wilayah iklim dan lain-lain secara keseluruhan baik sampai sangat baik.  Faktor-faktor penghambat seperti sifat-sifat fisik kimia dan biologi tanah yg jelek keadaan iklim yg tak sesuai bentuk wilayah berlereng dan berbukit-bukit sering terjadi genangan air serta salinitas yg tinggi.

Evaluasi lahan umumnya merupakan kegiatan lanjutan dari survei dan pemetaan tanah atau sumber daya lahan lainnya, melalui pendekatan interpretasi data tanah serta fisik lingkungan untuk suatu tujuan penggunaan tertentu. Sejalan dengan dibedakannya macam dan tingkat pemetaan tanah, maka dalam evaluasi lahan juga dibedakan menurut ketersediaan data hasil survei dan pemetaan tanah atau survei sumber daya lahan lainnya, sesuai dengan tingkat dan skala pemetaannya.


1.2. Tujuan

Tujuan dari laporan ini adalah sebagai berikut :
1.        Menentukan titik koordinat dan kemiringan lahan beberapa titik pengamatan.
2.        Menentukan kesesuaian lahan pada laboratorium percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung terhadap tanaman padi dan sorgum.

.




II  TINJAUAN PUSTAKA


Kesesuaian lahan adalah kecocokan macam penggunaan lahan pada tipe lahan tertentu. Kelas kesesuaian lahan suatu areal dapat berbeda-beda tergantung pada kecocokan potensi lahan terhadap kebutuhan macam penggunaan lahan tertentu. Evaluasi kesesuaia lahan adalah penilaian kecocokan tipe lahan terhadap penggunaan lahan speifik, seperti penggunaan lahan untuk tanman jagung, padi, kopi, cengkeh, tempat rekreasi pantai alam/hutan/budaya pemukiman, peternakan dan sebagainya. Kesesuaian setiap macam penggunaan lahan dinilai, diklasifikasikan, dan disajikan untuk dapat dimanfaatkan oleh pengguna lahan. Pada hakekatnya evaluasi kesesuaian lahan merupakan evauai kecocokan potensi tipe lahan terhadap kebutuhan penggunaan lahan. Evaluasi kesesuaian lahan harus dilaksanakan secara menyeluruh (holistik), sesuai dengan prinsip dan tujuan evaluasi lahan (Mahi, 2004).

Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching) data tanah dan fisik lingkungan dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan lahan mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas pertanian yang bersangkutan, pengelolaan dan konservasi. Kriteria kelas kesuaian lahan untuk 112 jenis komoditas pertanian yang berbasis lahan disajikan. Pada proses matching hukum minimum dipakai untuk menentukan faktor pembatas yang akan menentukan kelas dan subkelas kesesuaian lahannya. Dalam penilaian kesesuaian lahan perlu ditetapkan dalam keadaan aktual (kesesuaian lahan aktual) atau keadaan potensial (kesesuaian lahan potensial). Keadaan potensial dicapai setelah dilaksanakan usaha-usaha perbaikan (Improvement = I) terhadap masing-masing faktor pembatas untuk mencapai keadaan potensial. (Anonim, 2011)

Sebelum melaksanakan evaluasi lahan, terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang akan diterapkan. Dalam hal ini apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada kondisi tingkat manajemen rendah (sederhana), sedang, atau tinggi. Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan masukan teknologi tinggi, tentu berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk perkebunan rakyat yang cukup dengan masukan teknologi menengah. Demikian pula dalam hal penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam pembukaan lahan pertanian. Jika lahan akan diolah secara manual (cangkul atau bajak) maka asumsi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat berat (mekanik). Sebagai contoh penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan tanah secara manual tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik. Kasus serupa dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal ini lereng. Pada lereng lebih besar dari 8% jika tanah diolah dengan menggunakan traktor merupakan masalah, tetapi tidak demikian kalau diteras dengan menggunakan alat pengolah tanah yang sederhana. (Rahmat, 2011)

Struktur klasifikasi kesesuaian lahan menurut kerangka FAO (1976) dapat dibedakan menurut tingkatannya, yaitu tingkat Ordo, Kelas, Subkelas dan Unit. Ordo adalah keadaan kesesuaian lahan secara global. Pada tingkat ordo kesesuaian lahan dibedakan antara lahan yang tergolong sesuai (S=Suitable) dan lahan yang tidak sesuai (N=Not Suitable). Kelas adalah keadaan tingkat kesesuaian dalam tingkat ordo. Berdasarkan tingkat detail data yang tersedia pada masing-masing skala pemetaan, kelas kesesuaian lahan dibedakan menjadi: (1) Untuk pemetaan tingkat semi detail (skala 1:25.000-1:50.000) pada tingkat kelas, lahan yang tergolong ordo sesuai (S) dibedakan ke dalam tiga kelas, yaitu: lahan sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3). Sedangkan lahan yang tergolong ordo tidak sesuai (N) tidak dibedakan ke dalam kelas-kelas. (2) Untuk pemetaan tingkat tinjau (skala 1:100.000-1:250.000) pada tingkat kelas dibedakan atas Kelas sesuai (S), sesuai bersyarat (CS) dan tidak sesuai (N) (Fadil, 2011).

Faktor-faktor yg menunjang adalah data-data mengenai sifat fisik kimia dan biologi tanah termasuk bentuk wilayah iklim dan lain-lain secara keseluruhan baik sampai sangat baik.  Faktor-faktor penghambat seperti sifat-sifat fisik kimia dan biologi tanah yg jelek keadaan iklim yg tak sesuai bentuk wilayah berlereng dan berbukit-bukit sering terjadi genangan air serta salinitas yg tinggi. Setelah melakukan kegiatan survai dan pemetaan sumber daya lahan di lapangan kegiatan selanjut adl mengevaluiasi lahan.  Evaluasi lahan pada dasar merupakan proses utk menduga potensi sumber daya lahan utk berbagai penggunaan.  Adapun kerangka yg mendasar dari evaluasi sumber daya lahan adl membandingkan persyaratan yg diperlukan utk suatu penggunaan lahan tertentu dgn sifat sumber daya yg ada pada lahan tersebut (Sitorus 1983).







III  METODE


A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah GPS, bor belgia, linsimeter, pisau/cutter, penggaris, meteran, dan alat tulis.

B. Langkah Kerja

Adapun langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini adalah :
1.        Menentukan 5 corntoh titik pengamatan di Laboratorium Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
2.        Menentukan titik koordinat masing-masing titik.
3.        Melakukan perhitungan untuk menentukan skala peta dari koordinat yang telah ditentukan.
4.        Melakukan pengamatan kemiringan lereng lahan.
5.        Melakukan pengeboran untuk mengetahui sifat fisik masing-masing titik.
6.        Mencocokkan sifat-sifat lahan dengan karakteristik yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh optimal.







IV  HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil pengamatan

Tabel 1. Identitas lokasi di beberapa titik pengamatan
Lokasi
Lintang (LS)
Bujur (BT)
Ketinggian (m)
I
5°22’07”
105°14’34”
140
II
5°22’08”
105°14’34”
141
III
5°22’06”
105°14’34”
140
IV
5°22’08”
105°14’37”
148
V
5°22’10”
105°14’40”
146

Tabel 2. Data fisik beberapa titik pengamatan
Sifat Fisik
Titik
1
2
3
4
5
Kedalaman (cm)
0-77
0-77
0-74
0-60
0-80
Bahan Kasar
3-5%
-
3%
-
15%
Tekstur
Agak halus
Agak halus
Agak kasar
Agak halus
Agak halus
Kedalaman Perakaran (cm)
27
77
40
37
27
Konsistensi
Tidak lekat
Tidak lekat
Tidak lekat
Sangat lekat
Tidak lekat
Lereng
-
-
-
17,5
37,5

Tabel 3. Data kimia beberapa titik pengamatan
Lokasi
KTK liat (cmolc/kg)
Kejenuhan Basa (%)
pH H2O
C-Organik


I
25-40
20-35
5,5-6,5
2,01-3,00

II
17-24
36-50
6,6-7,5
1,01-2,00

III
17-24
36-50
6,6-7,5
1,01-2,00

IV
5-16
20-35
4,5-5,5
1,01-2,00

V
5-16
20-35
4,5-5,5
1,01-2,00


Tabel 4. Penilaian kesesuaian lahan lokasi I untuk tanaman padi
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
3-5%
S2
Kedalaman Tanah (cm)
0-77
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
25-40
S1
Kejenuhan Basa (%)
20-35
S3
pH H2O
5,5-6,5
S1
C-organik (%)
2,01-3,00
S1
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
-
S1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
S3 (Kejenuhan Basa)

Tabel 5. Penilaian kesesuaian lahan lokasi II untuk tanaman padi
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
-
S1
Kedalaman Tanah (cm)
0-77
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
17-24
S1
Kejenuhan Basa (%)
36-50
S2
pH H2O
6,6-7,5
S1
C-organik (%)
1,01-2,00
S2
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
-
S1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
S2 (C-Organik dan kejenuhan basa)

Tabel 7. Penilaian kesesuaian lahan lokasi III untuk tanaman padi
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak kasar
S3
Bahan Kasar (%)
3%
S2
Kedalaman Tanah (cm)
0-74
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
17-24
S1
Kejenuhan Basa (%)
36-50
S2
pH H2O
6,6-7,5
S1
C-organik (%)
1,01-2,00
S2
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
-
S1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
S3 (Tekstur)

Tabel 8. Penilaian kesesuaian lahan lokasi IV untuk tanaman padi
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
-
S1
Kedalaman Tanah (cm)
0-60
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
5-16
S2
Kejenuhan Basa (%)
20-35
S3
pH H2O
4,5-5,5
S2
C-organik (%)
1,01-2,00
S2
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
17.5
N1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
N1 (Lereng)

Tabel 9. Penilaian kesesuaian lahan lokasi V untuk tanaman padi
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
15%
S2
Kedalaman Tanah (cm)
0-80
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
5-16
S2
Kejenuhan Basa (%)
20-35
S3
pH H2O
4,5-5,5
S2
C-organik (%)
1,01-2,00
S2
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
37,5
N1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
N1 (Lereng)

Tabel 10. Penilaian kesesuaian lahan lokasi I untuk tanaman sorgum
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
3-5%
S1
Kedalaman Tanah (cm)
0-77
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
25-40
S1
Kejenuhan Basa (%)
20-35
S3
pH H2O
5,5-6,5
S1
C-organik (%)
2,01-3,00
S1
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
-
S1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
S3 (Kejenuhan Basa)

Tabel 11. Penilaian kesesuaian lahan lokasi II untuk tanaman sorgum
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
-
S1
Kedalaman Tanah (cm)
0-77
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
17-24
S1
Kejenuhan Basa (%)
36-50
S2
pH H2O
6,6-7,5
S1
C-organik (%)
1,01-2,00
S1
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
-
S1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
S2 (C-Organik dan kejenuhan basa)

Tabel 12. Penilaian kesesuaian lahan lokasi III untuk tanaman sorgum
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak kasar
S3
Bahan Kasar (%)
3%
S1
Kedalaman Tanah (cm)
0-74
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
17-24
S1
Kejenuhan Basa (%)
36-50
S2
pH H2O
6,6-7,5
S1
C-organik (%)
1,01-2,00
S1
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
-
S1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
S3 (Tekstur)


Tabel 13. Penilaian kesesuaian lahan lokasi IV untuk tanaman sorgum
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
-
S1
Kedalaman Tanah (cm)
0-60
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
5-16
S2
Kejenuhan Basa (%)
20-35
S3
pH H2O
4,5-5,5
S2
C-organik (%)
1,01-2,00
S1
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
17.5
N1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
N1 (Lereng)

Tabel 14. Penilaian kesesuaian lahan lokasi V untuk tanaman sorgum
Karakteristik Lahan Padi
Nilai
Kesesuaian Lahan
Temperatur Rerata (°C)
-
S1
Curah Hujan (mm)
-
S1
Lama Bulan Kering (bln)
-
S1
Drainase
-
S1
Tekstur
Agak halus
S1
Bahan Kasar (%)
15%
S1
Kedalaman Tanah (cm)
0-80
S1
Gambut :


Ketebalan (cm)
-
S1
KTK Liat (cmol)
5-16
S2
Kejenuhan Basa (%)
20-35
S3
pH H2O
4,5-5,5
S2
C-organik (%)
1,01-2,00
S1
Salinitas (ds/m)
-
S1
Alkalinitas/ESP (%)
-
S1
Kedalaman sulfidik (cm)
-
S1
Lereng (%)
37,5
N1
Bahaya erosi (eh)
-
S1
Genangan
-
S1
Batuan di permukaan (%)
-
S1
Singkapan batuan (%)
-
S1
Kesesuaian Lahan
N1 (Lereng)


B. Pembahasan

Laboratorium percobaan fakultas pertanian universitas lampung ini terletak di kawasan universitas lampung di gedong meneng, bandar lampung. Pada lahan tersebut, kita mentukan titik koordinat masing-masing titik, kemudian mengamati sifat-sifat fisik dan kimia, kemudian menetukan kecocokan lahan terhadap karakteristik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otimum tanaman tertentu. Tanaman yang kita jadikan contoh adalah padi dan sorgum.

Masing-masing titik yang kita gunakan semuanya terletak di kawasan laboratorium percobaan tersebut. Penentuan titik koordinat menggunakan Global Positioning System (GPS). Titik pertama terletak pada 105°14’34” dengan ktinggian 140 mdpl. Titik kedua terletak pada 105°14’34” dengan ketinggian 141 mdpl. Titik ketiga terletak pada 105°14’34” dengan ketinggian 140 mdpl. Titik keempat terletak pada 105°14’37” dengan ketinggian 148 mdpl. Titik terakhir terletak pada 105°14’40” dengan ketinggian 146 mdpl.

Masing-masing titik telah dianalisis sifat fisik dan kimianya yang emudian akan dicocokkan dengan karakteristik yang dibutuhkan oleh tanaman padi dan sorgum. Karakteristik masing-masing yang diamati adalah sifat fisik yang meliputi kedalaman tanah, bahan Kasar, tekstur, kedalaman perakaran, konsistensi dan kemiringan lereng, dan sifat kimia meliputi KTK liat, kejenuhan basa, pH H2O dan C-Organik. Penentuan sifat fisik yanah dilakukan menggunakan teknik pengeboran (Borring) dengan alat bol belgia.

Beberapa titik lokasi yang dilakukan pengamatan, lalu dicocokkan dengan karakteristik yang dibutuhkan tanaman. Untuk titik I sesuai marginal dengan faktor pembatas kejenuhan basa untuk tanaman padi dan sorgum. Untuk titik II cukup sesuai untuk tanaman padi dan sorgum dengan faktor pembatas kejenuhan basa dan C-Organik. Untuk titik III cukup sesuai untuk tanaman padi dan sorgum dengan faktor pembatas tekstur. Untuk titik IV tidak sesuai pada saat ini untuk tanaman padi dan sorgu dengan faktor pembatas lereng. Sedangkan untuk titik V tidak sesuai pada saat ini untuk tanaman padi dan sorgum dengan faktor pembatas lereng.

Dari beberapa titik yang dijadikan sampel, maka dapat diketahui bahwa di lahan laboratorium percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, cukup sesuai untuk ditanami tanaman padi dan sorgum. Adapun yang menjadi faktor pembatas untuk tanaman padi dan sorgum adalah kejenuhan basa, C-Organik, tekstur dan lereng. Pada titik IV dan V, lereng menjadi faktor pembatas N1, namun hal ini bisa diatasi dengan pembuatan sengkedan atau terasering pada lahan tersebut, seningga statusnya menjadi S3 untuk tanaman padi dan sorgum.

Secara umum, pada lahan tersebut produksi yang diharapkan dibawah keadaan optimal tanpa membrikan input khusus pada kualitas lahan yang ada hanya akan berproduksi 20-40% dari produksi optimal tanaman tersebut. Sementara itu, input atau tindakan pengelolaan khusu yag diperlukan pada lahan yang tersebut untuk mencapai produksi lebih dari 80% pada kondisi optimal diperlukan input yang dapat dilaksanakan dan hanya ekonomis dibawah keadaan baik (Dent et al, 1981).










V  KESIMPULAN


Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.        Laboratorium percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, cukup sesuai untuk ditanami tanaman padi dan sorgum.
2.        Adapun yang menjadi faktor pembatas untuk tanaman padi dan sorgum adalah kejenuhan basa, C-Organik, tekstur dan lereng.
3.        Pembuatan sengkedan atau terasering pada lahan tersebut menjaikan status lereng dari N1 menjadi S3 untuk tanaman padi dan sorgum.
4.        Produksi yang diharapkan dibawah keadaan optimal tanpa membrikan input khusus pada kualitas lahan yang ada hanya akan berproduksi 20-40% dari produksi optimal tanaman tersebut.








DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Prosedur Evaluasi lahan. http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/prosedur.php Diakses pada tanggal 29 Mei pukul 17.28 wib.

Dent, D. and A. Young. 1981. Soil Survei and Land Evaluation. George Allen & Unwin. London.

Djaenudin, D., Marwan H, H Subagyo, Anny Mulyani, dan N Suharta. 2000. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Balitbang pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.

Fadil. 2011. Servei dan Evaluasi Lahan. http://fadilb.blogspot.com/2011/01/survei-dan-evaluasi-lahan.html Diakses pada tanggal 29 Mei 2011 pukul 17.30 wib.

Mahi, Ali Kabul. 2004. Survei Tanah dan evaluasi Lahan. Unila press. Bandar Lampung.

Rahmat. 2011. Survei dan Evaluasi Lahan. http://blog.re.or.id/survei-dan-evaluasi-lahan.htm Diakses pada tanggal 29 Mei 2011 pukul 17.3 wib.

Sitorus, S.R.P. 1985. Evaluasi Sumber Daya Lahan. Tarsito. Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar