ahlan wa sahlan

Semoga bermanfaat," Sampaikanlah Walau Hanya Satu Ayat"

Selasa, 05 Juni 2012

laporan Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung



DAFTAR ISI


BAGIAN 1


DAFTAR TABEL DAN GRAFIK


Daftar Tabel
Hasil pengukuran J1N1………….…………………………………………………..     11
Hasil pengukuran J1N2.……………………………………………………………….  12
Hasil pengukuran J2N1………………….………..................................................  12
Hasil pengukuran J2N2……………………………………………………………….   13

Daftar Gambar
Jagung ……………………………………………........………………………………    3
Tanaman jagung………………………………………………..………………………  4
Tongkol jagung…………………………..……………………………………………..   5
Grafik daya tumbuh……………………………………………………………………   14
Grafik indeks luas daun…………………………………………........………………   17
Karet ……………………………………….........……………………………………...   20
Teh……..………………..………………………………………………………………    21
Coklat……………………………………………………………………………………    21



 

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Mata kuliah Dasar-dasar Agronomi adalah mata kuliah yang berisikan prinsip-prinsip dasar pengusahaan tanaman, pengenalan faktor-faktor produksi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Kegiatan praktikum diselenggarakan sebagai sarana untuk melengkapi dan mendukung pemahaman teori yang diberikan dalam perkuliahan. Pemahaman meteri praktikum diharapkan dapat dicapai melalui kegiatan di lapangan dan penelaahan bahan bacaan yang materinya disusun sesuai dengan materi pokok perkuliahan
Praktikum lapangan Dasar-dasar Agronomi merupakan serangkaian kegiatan di lapangan (kebun percobaan) yang berisikan materi identifikasi dan praktik kegiatan budidaya tanaman. Melalui praktikum ini mahasiswa akan memperoleh pengalaman empiris melakukan kegiatan mulai dari pengenalan tanaman, prinsip-prinsip penggunaan sarana produksi (benih, pupuk, pestisida), penanaman benih, pembibitan tanaman, pemeliharaan tanaman yang meliputi penyulaman, penyiraman, pemupukan, pengendalian hama penyakit dan pengendalian gulma serta pemanenan.
Selain itu mahasiswa juga menghitung dan menganalisis penggunaan sarana produksi, mengamati morfologi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta mengamati dan menghitung hasil panen, komponen hasil dan produktivitas tanaman. tanaman juga memperoleh wawasan kegiatan budidaya sebagai salah satu subsistem dari sistem agribisnis. Dan praktikum kali ini, digunakan sistem monokultur yaitu jagung bersari bebas.





1.2 Tujuan

Tujuan dilakukannya praktikum “Monokultur Jagung“ adalah:
1.        Mengenal pola tanam tunggal (monokultur).
2.        Mahasiswa diharapkan memahami prinsip-prinsip dasar kegiatan budidaya.
3.        Mahasiswa dapat menentukan dan menghitung kebutuhan sarana produksi seperti pupuk, benih, pestisida, dan alat-alat atau mesin pertanian.
4.        Mahasiswa dapat menjelaskan fase-fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta peranan faktor produksi dan tindakan budidaya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1  Deskripsi Tanaman Jagung

Jagung
 
        Klasifikasi Ilmiah

Koeh-283.jpgKingdom                     : Plantae
Ordo                            : Poales
Famili                          : Poaceae
Genus                          : Zea
Spesies                        : Zea mays
Nama Binomial           : Zea mays L
Text Box: Gambar 1.1 Jagung

Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang secara filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis) mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays.
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, adavarietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Text Box: Gambar 1.2  Tanaman Jagunghttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/c/cd/Jagung_di_ladang.jpg/250px-Jagung_di_ladang.jpgBatang  jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang. Pemahaman morfologi dan fase pertumbuhan jagung sangat membantu dalam mengidentifikasi pertumbuhan tanaman, terkait dengan optimasi perlakukan agronomis. Cekaman air (kelebihan dan kekurangan), cekaman hara (defisiensi dan keracunan), terkena herbisida atau serangan hama dan penyakit akan menyebabkan tanaman tumbuh tidak normal, atau tidak sesuai dengan morfologi tanaman.
Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a) akar seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Bobot total akar jagung terdiri atas 52% akar adventif seminal dan 48% akar nodal. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air.
Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Genotipe jagung yang mepunyai batang kuat memiliki lebih banyak lapisan jaringan sklerenkim berdinding tebal di bawah epidermis batang dan sekeliling bundles vaskuler.
Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Rambut jagung tumbuh dengan panjang hingga 30,5 cm atau lebih sehingga keluar dari ujung kelobot. Panjang rambut jagung bergantung pada panjang tongkol dan kelobot. Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan menempel pada rambut tongkol. Setelah penyerbukan, warna rambut tongkol berubah menjadi coklat dan kemudian kering.
Text Box: Gambar 1.3 Tongkol JagungTanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.
Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air; (b) endosperm, sebagai cadangan makanan, dan (c) embrio (lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil.

2.2  Manfaat Jagung

Jagung kaya akan lemak nabati sehingga sering diolah untuk diambil minyaknya yang merupakan sumber asam lemak omega-6 yang bermanfaat dalam proses pertumbuhan anak, menjaga kesehatan kulit, mencegah penyakit jantung, dan stroke. Selain mengandung serat yang pentin untuk menurunkan kadar kolesterol jagung juga kaya akan asam folat yang berperan menurunkan kadar homosistein dalam pembuluh darah.
Jagung merupakan sumber thiamin (vitamin B1) yang sangat penting bagi kesehatan sel otak dan fungsi kognitif sebab thiamin dibutuhkan untuk membentuk acetylcholine yang berfungsi memaksimalkan komunikasi antar sel otak dalam proses berpikir dan konsentrasi jika kadar zat ini menurun maka akan menyebabkan pikun dan  penyakit Alzheimer. Jagung juga mengandung asam pentotenat (vitamin B5) yang berperan dalam proses metabolisme karbohidrat, protein dan lemak untuk diubah menjadi energi.

2.3  Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung

1. Hama
Ulat Pemotong Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

2. Penyakit
            Penyakit bulai (Downy mildew) Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan


BAB III

BAHAN DAN METODE


3.1       Waktu dan Tempat

Praktikum Dasar-Dasar Agronomi ini dilaksanakan setiap satu minggu sekali di kebun percobaan Leuwikopo yaitu setiap hari Rabu, mulai 1 September 2010 hingga minggu ke-10 yang dilaksanakan pada hari Jum’at, 19 November 2010 karena perubahan jadwal akibat libur nasional.

3.2       Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
1.      Benih Jagung varietas Bisma
2.      Pupuk Urea (1125 gr)
3.      Pupuk SP-18 (540 gr)
4.      Pupuk KCl (450 gr)
5.      Insektisida (Supracide 25 wp 12 gr)
6.      Furadan
Peralatan yang diperlukan berupa cangkul, kored, tali rafia, tugal, meteran, ember, dan perlengkapan lain seperti label percobaan dan ajir contoh.

3.3       Pelaksanaan Penanaman

Perlakuan dilakukan satu kali yaitu hanya pada varietas Bisma dengan populasi tanaman sebanyak 444 tanaman/ha. Dosis pupuk yang digunakan sama untuk semua perlakuan yaitu: Urea (1125 gr), pupuk SP-18 (540 gr), KCl (450 gr). Semua jenis pupuk tersebut diaplikasikan secara bersama-sama pada saat penanaman. Pada saat 4 MST juga diaplikasikan Urea dengan dosis 1125 gr. Ukuran petakan lahan 10 m x 7,5 m dan jarak tanam 80 cm x 20 cm.

3.3.1        Penanaman
1.        Penentuan jarak tanam tanaman dalam baris dan jumlah baris (80x20) dengan menggunakan tali rafia yang sudah ditentukan batas tanamnya yang sudah dipasang ajir patok untuk setiap ujung tali dan di patok pada lahan yang tersedia.
2.        Menugal tanah dengan jarak 80 cm antar baris dan 20 cm dalam baris.
3.        Mengisi benih jagung satu benuh perlubang dan sejumput furadan setiap lubangnya.
4.        Membuat alur pupuk pada jarak 7 cm sebelah selatan alur tanaman (kecuali yang terakhir, alur pupuk berada disebelah utara).
5.        Mengaduk pupuk SP-18 540 gr, Urea 1125 gr, KCl 450 gr secara merata dan bagi menjadi 12 bagian.
6.        Menabur pupuk pada alur yang telah disediakan.
7.        Menutup lubang pupuk dan lubang benih.
8.        Pasan etiket petak yang tepat.
9.        Siramkan air secukupnya, hingga lembab, pada barisan tanam (apabila pada saat tanam tidak ada hujan atau tanah kering).

3.3.2        Pemeliharaan
1.        Penyulaman dilakukan pada umur 1 MST setelah dilakukan pengamatan daya kecambah.
2.        Menghitung daya tumbuh tanaman untuk semua populasi (375 tanaman)
3.        Menyiangi gulma yang tumbuh dekat barisan-barisan tanaman dan diantara barisan tanaman.
4.        Pada saat 3 MST, memilih 10 tanaman sampel dengan memilih secara acak dan mengukur tinggi serta menghitung jumlah daun tanaman.
5.        Pada 4 MST, dilakukan pemupukan nitrogen pada dua varietas jagung.
6.        Penyiangan gulma yang tumbuh dekat barisan tanaman dan diantara tanaman.
7.        Pemupukan (Urea) dengan dosis 1125 gr dengan membuat alur disamping barisan tanam pada sisi yang berbeda dengan alur pemupukan sewaktu penanaman.
8.        Membunuh ulat yang mengganggu tanaman.
9.        Penyiangan dan penggemburan tanah; lakukan penyiangan pada gulma yang tumbuh dekat barisan tanam dan di antarbarisan tanaman sekaligus untuk menggemburkan tanah, secara manual dengan cangkul atau kored. Usahakan gulma dicabut sampai perakarannya.
10.    Pengendalian hama penyakit; lakukan penyemprotan insektisida dan fungisia jika diperlukan, sesuai dosis dan volume semprot anjuran yang tertera pada label.
11.    Pemasukan dan pembuangan air; bila tanah terlalu kering bagi tanaman, alirkan air masuk ke dalam petakan; sebaliknya, apabila curah hujan tinggi perbaiki saluran air sekeliling petakan sehingga pembuangan air lancar.

3.3.3        Pengamatan
Selama pertumbuhan sampai panen jagung, lakukan pengamatan terhadap hal-hal berikut:
3.3.3.1  Pertumbuhan
1.         Pada saat 3 MST hitunglah jumlah benih yang tumbuh dari seluruh lubang tanam, kemudian persentasikan terhadap seluruh jumlah benih yang ditanam.
2.         Ambilah 10 tanaman contoh secara acak yang mewakili seluruh petakan (jangan ambil dari tanaman pinggir). Amati tanaman contoh tersebut setiap minggunya  dengan pengamatan sebagai berikut:
*   Tinggi tanaman
*   Jumlah daun (helai); hitung jumlah daun yang membuka sempurna.
*   Amati jumlah daun-daun yang mengalami perubahan (menguning, keriting dan berlubang)
*   Luas daun pertanaman. Saat 6 MST cabut satu buah tanaman selain tanaman contoh dan tanaman pinggir, ukur indeks luas daun dengan metode gravimetrik, yaitu menggambarkan semua daun pada kertas koran kemudian di gunting dan timbang di Laboratorium, timbang juga berat kertas yang sama dengan luas kertas koran 10 cm x 10 cm. (Koran harus dari jenis yang sama)
3.         Saat 8 MST, amati apakah muncul bunga dan tongkol pada setiap tanaman contoh.
4.         Amati dan tentukan jenis hama penyakit yang menyerang tanaman.

3.3.3.2  Komponen Produksi
*        Pada saat panen, untuk 10 tanaman contoh, lakukan pengukuran komponen produksi sebagai berikut:
a.    Bobot akar, dengan mencuci akar per tanaman agar tanahnya tidak ikut.
b.    Bobot batang yang sudah di pisahkan dari akar dan jagungnya.
c.    Bobot tongkol jagung yang masih berkelobot.
d.   Bobot tongkol jagung yang sudah di pisahkan dar kelobotnya dengan ketentuan siap dipasarkan, tanpa kelobot, lingkar tongkol, panjang tongkol, panjang tongkol berbiji.
e.    Lingkar batang yang paling besar dari setiap tanaman.
f.     Hitung rata-rata dari semua ketentuan tanaman contoh.
*        Bobot basah per petak. Panen seluruh tanaman pada tanaman petak selain tanaman pinggir. Kemudian cabut seluruh jagungnya lalu timbang. Hasil dari timbangan ini ditambah dengan jumlah bobot jagung dari 10 tanaman contoh.



BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

4.1.1   Hasil Pengamatan J1N1 (Varietas hibrida dengan dosis 90 kg N Ha-1)
Dari perhitungan daya tumbuh, diketahui besar daya tumbuh jagung pada perlakuan ini adalah 89,65%. ILD tanaman J1N1 sebesar 1,039.
Data tinggi rata-rata dan jumlah daun rata-rata pada 10 tanaman contoh untuk minggu pertama dan kedua tidak ada disebabkan oleh pengambilan tanaman contoh pada minggu ketiga setelah tanam. Data hasil percobaannya diperlihatkan pada Tabel 1. Adapun produktivitas jagung dengan perlakuan J1N1 adalah 9,96 ton/Ha
         Tabel 1. Hasil Pengukuran Tanaman  J1N1
MST
Tinggi (cm)
Daun (Helai)
1
-
-
2
-
-
3
33.5
5.0
4
81.0
5.8
5
114.0
8.3
6
102.7
3.1
7
171.4
6.4
8
208.6
9.9
9
226.0
11.6
10
226.0
11.6

4.1.2   Hasil Pengamatan J1N2(Varietas hibrida dengan dosis 135 kg N Ha-1)
Dari perhitungan daya tumbuh, diketahui besar daya tumbuh jagung pada perlakuan ini adalah 89%. ILD tanaman J1N2 adalah 2,99. Produktivitas jagung dengan perlakuan J1N2 adalah 7,54 ton/Ha.  Adapun data hasil percobaan pada jagung dengan perlakuan J1N2 diperlihatkan pada tabel 2.


Tabel 2. Hasil Pengukuran Tanaman J1N2
MST
Tinggi (cm)
Daun (Helai)
1
-
-
2
-
-
3
51.2
5.1
4
81.2
6.5
5
124.2
7.1
6
162.6
6
7
198.3
8.1
8
233.9
12.6
9
243.1
13
10
245.3
12.5

4.1.3   Hasil Pengamatan J2N1 (Varietas Bisma  dengan dosis 90 kg N Ha-1)
Dari perhitungan daya tumbuh, diketahui besar daya tumbuh jagung pada perlakuan ini adalah 92,38%. ILD tanaman J2N1 adalah 2,59. Data hasil percobaan jagung pada perlakuan J2N1 diperlihatkan pada tabel 3. Adapun produktivitasnya adalah sebesar 6,5 ton/ha.
Tabel 3. Hasil Pengukuran Tanaman J2N1
MST
Tinggi (cm)
Daun (Helai)
1
-
-
2
-
-
3
42.98
4.1
4
70.2
4.7
5
96.65
5.5
6
135.15
5.7
7
169.4
6.1
8
188.6
8.6
9
205.5
10.6
10
215.5
11.5


4.1.4   Hasil Pengamatan J2N2(Varietas Bisma dengan dosis 135 kg N Ha-1)
Dari perhitungan daya tumbuh, diketahui besar daya tumbuh jagung pada perlakuan ini adalah 84.46%. Data percobaan jagung bersari bebas perlakuan J2N2 disajikan dalam tabel 4.
Tabel 4. Hasil Pengukuran Tanaman J2N2
MST
Tinggi (cm)
Daun (Helai)
1
-
-
2
-
-
3
40.45
4.3
4
62.9
5.7
5
119.4
5.7
6
131.7
6
7
161.7
7.3
8
192.4
9.1
9
209.7
11
10
212.7
10.2

Pada MST ke 3 dilakukan pengukuran daya tumbuh, perhitungannya sebagai berikut:
·           Daya tumbuh = 375/444 x 100% = 84.46%
Pada MST ke 6 dilakukan pengukuran indeks luas daun (ILD), perhitungannya sebagai berikut:
·           Massa kertas (20x20) = 2.54 gram
       Massa jiplakan daun           = 28.35 gram
       Luas daun satu batang        = 28.35/2.54 x 400
                                                   = 4464.57
·           ILD             = Luas daun satu batang/ (80x20)
= 4464.57 / 1600
= 2.79
   Adapun produktivitas jagung dengan perlakuan J2N2 adalah 6,27 ton/Ha.

4.2 Pembahasan

Pada percobaan ini dipakai dua varietas berbeda yaitu jagung hibrida yang diberi perlakuan J1N1 dan J1N2 serta Bisma (jagung bersari bebas) yang diberi perlakuan J2N1 dan J2N2 dengan jarak tanam 80 x 20 cm. Penanaman dilakukan pada lahan seluas 10 m x 7,5 m untuk masing-masing perlakuan dan ditanam 1 biji per lubang sehingga berdasarkan teori kebutuhan benih pada masing-masing perlakuan adalah :
Kebutuhan benih           = luas lahan / jarak tanam
= (10 x 7,5) 10000 cm2 / 80 x 20 cm2 = 469 benih
Namun, pada kenyataannya hanya dibutuhkan 444 benih karena pada lahan tersebut hanya terdapat 12 baris tanaman dengan 37 tanaman tiap baris.
Saat berkecambah, kotiledon dari biji jagung tidak keluar dari dalam tanah bersama dengan daun baru yang muncul. Tipe perkecambahan semacam ini sering disebut dengan tipe perkecambahan hipogeal. Pada saat perkecambahan (tanaman berumur 1 MST) terdapat perbedaan daya tumbuh antara masing-masing perlakuan. Hal ini dapat dilihat pada grafik 1.1. Dari grafik ini terlihat bahwa daya tumbuh dari J1N1, J1N2, J2N1, dan J2N2 secara berurutan adalah  89.65%, 89%, 92.38%, dan 84.46%.
Daya Tumbuh







Perlakuan
 
 


Gambar 1.4 Grafik Daya Tumbuh
Pada jagung hibrida memiliki rata-rata daya tumbuh lebih besar daripada varietas Bisma. Hal ini dapat terjadi karena kualitas atau daya berkecambah dari masing-masing varietas berbeda-beda. Kondisi lahan yang berbeda pun turut mempengaruhi daya tumbuh benih dari masing-masing perlakuan. Misalnya saja terdapat lahan yang tergenangi air saat jagung ditanam. Hal ini menyebabkan biji jagung tidak berkecambah, namun busuk di dalam tanah. Faktor lainnya adalah jagung ditanam terlalu dalam atau benih jagung dimakan serangga akibat terlewat saat pemberian Furadan.
Pada saat tanaman mulai berusia 3 MST dilakukan pengukuran terhadap tinggi tanaman dan  daun tanaman untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Siklus hidup pada setiap tanaman dibagi menjadi 2 fase yaitu fase vegetatif dan reproduktif. Pada fase vegetatif sebagian besar karbohidrat yang dihasilkan oleh tanaman dari hasil fotosintesis digunakan untuk pembelahan, perpanjangan, dan deferensiasi sel sehingga terjadi pertumbuhan. Sedangkan pada fase reproduktif tidak terjadi pertumbuhan pada tanaman karena sebagian besar karbohidrat hasil fotosintesis ditimbun (disimpan) dalam tubuh tanaman. Hasil dari pengukuran terhadap tinggi, dan jumlah daun rata-rata tanaman contoh pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada tabel 5.
     Tabel 5. Tinggi dan jumlah daun rata-rata tanaman contoh
Perlakuan
Tinggi Tanaman (cm)
∑ Daun
3
5
7
9
3
5
7
9
J1N1
33.5
114.0
171.4
226
5.0
8.3
6.4
11.6
J1N2
51.2
124.2
198.3
243.1
5.1
7.1
81
13
J2N1
42.98
96.65
169.4
205.5
4.1
5.5
6.1
10.6
J2N2
40.45
119.4
161.7
209.7
4.3
5.7
7.3
11

Fase reproduktif ini ditandai dengan pembentukan dan perkembangan kuncup bunga, buah, dan biji atau pada pembesaran dan pendewasaan struktur penyimpanan makanan, akar-akar, dan batang yang berdaging, termasuk juga biji pada  jagung. Bunga muncul sebanyak ± 60 % pada 8 MST, begitu pula dengan buah yang muncul sebanyak 40 % setelah 8 MST. 
Pemupukan pada jagung dilakukan sebanyak 2 kali yaitu saat penanaman dan saat tanaman berusia 4 MST. Pada saat jagung di tanam, pupuk langsung diberikan di samping barisan tanaman. Pupuk yang diberikan antara lain :


1.    Urea
Urea diberikan dengan dosis yang berbeda pada setiap perlakuan yaitu 90 kg N Ha-1 pada perlakuan J1N1 dan J2N1 serta 135 kg N Ha-1 pada perlakuan J1N2 dan J2N2. Pengaruh dari unsur nitrogen terhadap tanaman adalah merangsang pertumbuhan. Urea yang diberikan dalam percobaan ini adalah urea dalam bentuk kristal. Karakter dari urea adalah cepat menghilang baik melalui pencucian dalam bentuk ion nitrat (NO3-), penguapan, denitrifikasi, maupun terkena erosi. Untuk mengurangi penguapan urea ke atmosfer, pemberian urea dilakukan dengan cara dibenamkan dalam tanah. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berusia 4 MST.
2.    SP-18 (18% P2O5)
Unsur makro yang didapat dari pupuk ini adalah fosfor (P) yang berperan dalam pembelahan sel; pembentukan bunga, buah, dan biji; mempercepat pematangan; memperkuat batang; perkembangan akar; serta berperan dalam transfer energi.
Dalam tanah masam banyak unsur P baik yang telah berada di dalam tanah maupun yang     diberikan ke tanah sebagai pupuk. Karena P mudah difiksasi maka pemberian pupuk P tidak disebarkan tetapi diberikan dalam larikan agar kontak dengan tanah seminimum mungkin sehingga kemungkinan fiksasi P oleh Al dan Fe dapat dikurangi. Dosis  SP-18 yang diberikan untuk petakan seluas 10 m x 7,5 m dibutuhkan 540 gr SP-18.
3.    KCL
Unsur makro yang didapatkan adalah kalium (K) yang berperan dalam pembentukan pati, pengaktifan enzim, pengaturan stomata, berperan dalam proses fisiologis dan metabolik sel serta berperan dalam perkembangan akar. Dosis pupuk KCL yang diberikan adalah untuk luasan 10 m x 7,5 m adalah sebanyak 450 gr KCL.
Beberapa gangguan baik berupa penyakit ataupun hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman  jagung pada percobaan kami antara lain serangan hama(ulat, belalang, rayap, dan kutu daun) dan gejala kekurangan fosfor .  Serangan hama dicegah dengan penyemprotan insektisida Supracide 25 wp 12 gr yang disemprotkan pada tanaman saat berumur 6 MST.
Pada percobaan ini dilakukan pula pengukuran terhadap ILD (Indeks Luas Daun) dari masing-masing populasi. Besarnya ILD ini menunjukkan seberapa besar cahaya yang ditangkap oleh daun melalui klorofil. Semakin tinggi luas daunnya, maka akan semakin banyak cahaya yang ditangkapnya maka semakin efisien pula proses fotosintesisnya. Fotosintesis dikatakan efisien jika hasil fotosintesis lebih besar dari pada energi yang diperlukan untuk respirasi. Pada tanaman jagung, fotosintat akan sebagian disimpan pada biji. Oleh karena itu ILD juga akan berpengaruh terhadap banyaknya hasil produksi yang diperoleh. ILD dapat dihitung dengan rumus:
ILD        =          luas daun / luas lahan yang ditutupi      atau                              
ILD        =          (luas daun x populasi) / luas lahan
Indeks Luas Daun
Perlakuan
 


Gambar 1.5 Grafik Indeks Luas Daun
Dari grafik tersebut terlihat bahwa pada perlakuan J1N1 dan J1N2, indeks luas daunnya lebih besar J1N2 daripada J1N1 meskipun varietas tanamannya sama. Hal ini terjadi karena perbedaan dosis pupuk yaitu 90 kg N/ha untuk J1N1 dan 135 kg N/ha untuk J1N2. Pemberian pupuk akan berpengaruh terhadap pembentukan daun yang akan meningkatkan ILD. Begitu pula yang terjadi pada perlakuan J2N1 dan J2N2, akibat dosis pupuk yang digunakan lebih banyak dan dapat lebih mencukupi kebutuhan zat hara tanaman, ILD J2N2 lebih besar daripada J2N1.
Pemanenan jagung dilakukan pada umur tanaman 11 MST. Hasil panen jagung dari percobaan ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut
Perlakuan
Hasil panen total
(ton/ha)
J1N1
J1N2
J2N1
J2N2
9.96
7.54
6.5
6.27


BAB V

KESIMPULAN


Dalam sistem budidaya tanaman terdapat 2 sistem yaitu sistem monokultur dan sistem heterokultur. Budidaya tanaman jagung yang kami praktikkan termasuk budidaya dengan sistem monokultur karena dalam satu lahan hanya ada satu jenis tanaman budidaya. Pembudidayaan tanaman jagung meliputi kegiatan penanaman, perawatan, hingga pemanenan. Untuk mendapatkan produktivitas yang maksimal dan menghindari gagal panen akibat serangan hama dan penyakit, maka digunakanlah pupuk dan pestisida.
            Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa dosis pemupukan sangat berpengaruh terhadap produktivitas jagung. Semakin banyak pupuk yang diberikan semakin terpenuhilah kebutuhan nutrisi tanaman. Namun, tanaman juga mempunyai batas maksimum penyerapan unsur hara sehingga pemupukan yang terlalu banyak akan berakibat pada penurunan produktivitas tanaman. Terlihat dari hasil pengamatan, pembudidayaan dengan dosis pupuk 135 kg N/ha menghasilkan panen yang lebih banyak daripada pembudidayaan dengan dosis pupuk 90 kg N/ha.





BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara agraris. Berdasarkan data BPS tahun 2003, luas lahan pertanian Indonesia mencapai 196 juta ha yang terbagi menjadi beberapa sektor antara lain pertanian sawah dan perkebunan. Terdapat aneka jenis tanaman perkebunan yang dikembangkan di Indonesia mulai dari tanaman yang dimanfaatkan daunnya, buahnya, hingga getah dan kayunya. Contoh tanaman yang dimanfaatkan daunnya adalah teh, yang dimanfaatkan buahnya adalah kopi dan kakao, yang dimanfaatkan getahnya adalah karet dan lain sebagainya.
Agar pertanian Indonesia maju maka kita juga harus mengembangkan sektor perkebunan. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan mempelajari tanaman-tanaman perkebunan tersebut termasuk karakteristik, habitat, dan teknik budidayanya

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan identifikasi tanaman perkebunan antara lain untuk mengetahui jenis dan karakteristik tanaman perkebunan serta mengetahui teknik budidaya dan manfaat dari setiap jenis tanaman perkebunan.


BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Karet (Hevea brasiliensis)

Text Box: Gambar 2.1 KaretKaret termasuk jenis tanaman dikotil (berkeping ganda) dan angiospermae (berbiji tertutup). Dalam perbanyakan tanaman karet secara generatif, biji harus disemai terlebih dahulu kemudian bibit ditanam dengan jarak 40x40x60 cm. Bibit karet yang sudah siap tanam, dipindah ke kebun dengan jarak tanam 3x7 meter. Sedangkan secara vegetatif dengan stek atau dengan okulasi (penempelan).
Pada kulit batang yang berwarna coklat, terdapat jaringan parenkim yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Jaringan ini terdiri dari rentetan sel yang berbentuk pipa memanjang yang berisi lateks yakni getah karet cair yang berwarna putih susu. Pemanenan karet dilakukan dengan menyayat kulit batang karet dari kiri atas ke kanan bawah dan hanya boleh dilakukan setelah tanaman mencapai syarat lilit batang yaitu 45 cm pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, penyadapan harus dilakukan di pagi hari.

2.2 Teh (Camellia sinensis)

Text Box: Gambar 2.2 Tanaman TehDedaunan Camellia sinensisTeh termasuk jenis perdu yang ditanam di perkebunan pada ketinggian 200-2.300 m dpl. Perbanyakan generatif teh menggunakan biji, sedangkan secara vegetatif menggunakan stek. Hama dan penyakit tanaman teh antara lain: Nematoda sp. yang merusak perakaran, ulat penggulung daun, dan penyakit akar merah daun.
Terdapat dua jenis pucuk yaitu pucuk peko dan pucuk burung. Akan tetapi yang dapat dimanfaatkan hanya pucuk peko. Banyaknya pucuk burung menandakan bahwa tanaman teh tersebut tidak tumbuh dengan baik.

2.3 Kakao (Theobroma cacao)

Text Box: Gambar 2.3 Tanaman coklatTanaman Kakao dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan dengan suhu udara 150-250C, kelembaban di atas 80% dan terdapat pohon pelindung yang berfungsi untuk pengurangan sinar matahari. Diperlukan waktu 4-6 bulan sejak tanaman berbunga sampai buah kakao tersebut masak. Buah kakao yang masak berwarna merah kekuningan. Setelah pemanenan, buah dipecah dan diambil bijinya kemudian di proses menjadi cokelat yang siap untuk dikonsumsi.

2.4 Kopi

Text Box: Gambar 2.4 Tanaman kopiJenis kopi yang biasa ditanam adalah arabika dan robusta. Meskipun kopi arabika lebih enak, Kopi robusta lebih banyak dibudidayakan karena produktivitasnya yang lebih tinggi. Tanaman kopi dapat tumbuh di daerah subtropis hingga tropis asalkan tanahnya gembur dan curah hujannya merata.
Untuk mempermudah pemeliharaan dan pemanenan, tanaman perlu dilakukan pemangkasan. Perkembangbiakan tanaman kopi secara generatif menggunakan biji, sedangkan secara vegetatif menggunakan teknik menyambung dan setek batang.

2.5 Kelapa (Cocos nucifera)

Text Box: Gambar 2.5  Pohon KelapaKelapa yang biasa dibudidayakan adalah kelapa dalam, kelapa genjah, dan kelapa hibrida. Kelapa dalam berbatang tinggi dengan buah besar dan banyak serta dapat dipanen pada umur 8 tahun. Sedangkan kelapa genjah berbatang pendek, jumlah buahnya banyak dan kecil serta dapat dipanen pada umur 4-5 tahun. Kelapa ditanam pada lubang dengan ukuran 0,9x0,9x0,9 m dengan penambahan pupuk kandang dan humus. Jarak tanam untuk jenis dalam yaitu 9 x 10 m dan jenis genjah 6 x 6 m.
Adapun jenis kelapa yang paling menguntungkan adalah jenis hibrida yang merupakan hasil persilangan kelapa dalam dan kelapa genjah sehingga mempunyai karakteristik sama dengan kelapa genjah tetapi berbatang pendek.

2.6 Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)

Kelapa sawit, tanaman perkebunan yang dimanfaakan buahnya untuk dijadikan bahan baku minyak nabati. Kelapa sawit ditanam dengan jarak tanam berupa segitiga samasisi 9x9x9 meter. Minyak nabati yang dihasilkan berupa African Oil Palm (Elaeis guineensis)minyak sawit mentah (Crude Palm Oil) dan minyak inti sawit(Palm Kernel Oil). Buah kelapa sawit yang siap dipanen adalah tandan buah yang sudah berwarna merah. Pada umumnya tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan 5 kg/TBS. Pemanenan buah segar dilakukan dengan cara Text Box: Gambar 2.6 Pohon Kelapa Sawitdidodos dan diegrek.



BAB III

KESIMPULAN


Sektor perkebunan termasuk sektor yang menunjang pertanian Indonesia. Beberapa jenis tanaman perkebunan yang telah banyak dikembangkan di Indonesia antara lain: teh, kopi, kakao, karet, kelapa, dan kelapa sawit. Masing-masing mempunyai karakteristik dan teknik budidaya yang berbeda seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan.











BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Tanaman hortikultura merupakan tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Selain itu, tanaman ini juga banyak diminati dan mempunyai prospek yang tinggi. Untuk lebih mengenal tanaman hortikultura, maka dilakukan identifikasi tanaman hortikultura yang dilakukan di Cikarawang. Tanaman hortikultura yang dibudidayakan disana terdiri atas tanaman sayuran dan buah-buahan. Tanaman sayuran yang dapat dilihat antara lain sawi, kangkung, caisin, kailan, terung, selada. Tanaman buah yang dapat dilihat adalah jambu kristal, srikaya, jujube dan buah naga. Identifikasi tanaman yang dilakukan meliputi karakteristik, penanaman dan panen. 

1.2 Tujuan

Tujuan dari identifikasi tanaman hortikultura antara lain untuk mengetahui jenis dan karakteristik tanaman hortikultura. Selain itu, untuk mengetahui teknik budidaya mulai penanaman hingga panen dari macam-macam tanaman hortikultura.


BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Ubi Jalar (Ipomea batatas)

Text Box: Gambar 3.1 Ubi JalarUbi jalar merupakan tanaman semusim yang diperbanyak dengan stek batang. Kebutuhan bibit per ha sekitar 40.000 stek. Jarak antarstek 20-25cm. Dosis pemupukan untuk ubi jalar berkisar 100 kg urea/ha, 100 kg SP-36/ha dan 100 kg KCl/ha. Ubi jalar ditanam diatas guludan. Jarak antar pusat guludan 70-100 cm, tinggi 30-40 cm dan lebar 60 cm. Ubi jalar dipanen saat kandungan patinya maksimum dengan kadar serat  yang rendah (4-6 bulan). Panen umbi dilakukan dengan cara membongkar dan menggali guludan.

2.2 Kangkung (Ipomoea reptans)

Text Box: Gambar 3.2 KangkungKangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun. Untuk satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Biji kangkung ditanam di bedengan yang dibuat membujur dari Barat ke Timur. Jarak tanam kangkung adalah 20x20 cm, tiap lubang ditanami 2-5 biji. Panen dilakukan setelah berumur  +30 hari setelah tanam dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas permukaan tanah.

2.3 Sawi (Brassica juncea)

Text Box: Gambar 3.3 SawiSawi merupakan tanaman sayur daun yang dapat ditanam di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Benih yang dibutuhkan untuk sehektar adalah 1.5 kg. Jarak tanam sawi adalah 20×20 cm. Penanaman dilakukan pada bibit yang berumur 3-4 minggu setelah disemai (sudah mempunyai 3-5 helai). Panen dilakukan setelah berumur 20-30 hari setelah tanam dan pembentukan daunnya telah maksimal. Produksi sawi berkisar 20-50 ton/ha.

2.4 Caisin (Brassica rapa cv. caisin)

Text Box: Gambar 3.4 CaisinCaisin merupakan sayuran daun yang biasa digunakan untuk bahan pokok maupun sebagai pelengkap masakan tradisional dan masakan cina. Kebutuhan bibit caisin per hektar adalah 1-2 kg/ha dengan jarak tanam 20×20 cm. Penanaman dilakukan pada bibit yang berumur 3-4 minggu setelah disemai (sudah mempunyai 3-5 helai). Satu lubang tanam diisi satu bibit.



2.5 Kailan (Brassica oleraceae sp.)

Text Box: Gambar 3.5 KailanKailan merupakan sayuran yang hidup di ketinggian 700-1500 dpl. Pembibitan kailan adalah dengan biji. Kebutuhan benih kailan per hektar sekitar 400-500 gram . Penanam an dilakukan pada bibit yang berumur 2 minggu setelah disemai. Jarak tanam kailan 40x40 cm. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang. Dosis pupuk 2-3 kg/m2. Panen umumnya dilakukan 30 hari sesudah biji ditanam.

2.6 Jambu Kristal (Psidium guajava L.)

Text Box: Gambar 3.6 Jambu KristalJambu Kristal mempunyai keistimewaan rasa buah manis segar (11-12ยบ Brix), tekstur buah renyah, ukuran buah besar 300-500 g/buah, produksi tidak mengenal musim, dan buahnya tidak berbiji (seedless). Perbanyakan jambu ini dilakukan secara vegetatif (sambung pucuk, okulasi dan cangkok). Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan di pembibitan maupun pada pohon dewasa (berumur > 5 tahun) melalui Teknik Top Working, yaitu teknik penyambungan atau okulasi yang memadukan antara batang bawah dengan batang atas dimana batang bawah umumnya sudah berwujud pohon yang besar atau sudah berproduksi.

2.7 Selada (Lactuca sativa L.)

Text Box: Gambar 3.7 SeladaSelada  merupakan sayuran daun yang berumur semusim dan termasuk dalam famili compositae. Kebutuhan benih + 400 g biji / hektar. Setelah disemai selam 3-4 minggu atau sudah memiliki 4-5 helai daun tanaman dapat dipindahkan ke bedengan yang sudah dipersiapkan dengan jarak tanam  20 x 20 cm atau 25 x 25 cm. Selada dapat dipanen setelah berumur  + 2 bulan, dengan mencabut batang tanaman atau memotong pangkal batang. Tanaman yang baik dapat menghasilkan  + 15 ton/ha.



2.8 Kucai (Allium Schoenoprasum L.)

Kucai dikenal sebagai sayuran daun. Kucai berdaun pipih dan bunganya berwarna putih. Jarak tanam kucai 30 cm x 50 cm. Panen kucai dilakukan 50 -60 hari setelah tanam.

2.9 Pare putih (Momordica charantia L.)

Pare putih disebut juga pare gajih. Bentuk buahnya panjang dengan ukuran 30-50 cm dan diameter 3-7 cm, berat rata-rata 200-500 gram per buah.pare ditanam di guludan dengan ukuran 1.5x30 cm tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 40-60 cm. Jarak tanam yang dipakai adalah 0.75x0.75 m atau 1x1 m. Panen pertama dilakukan 2 bulan setelah tanam atau 2 MST, berikutnya 1-2 minggu sekali.

2.10 Tomat cery (Lycopersicon esculentum)

Text Box: Gambar 3.9 Tomat CeryTomat cery ditanam setelah berumur 4-5 minggu disemai dalam media tanam yang berisi arang sekam. Panen pertama dapat dilakukan mulai 9 minggu setelah tanam, berikutnya 5-7 hari sekali.

2.11 Terong

Text Box: Gambar 3.10 TerongJarak tanam yang dipakai adalah double row (2 baris tanaman) per bedengan dengan jarak tanam 60cm antar tanaman dan 70 cm antar bedengan. Penanaman dilakukan pada bibit yang berumur 1-1.5 bulan (mempunyai 4-5 helai daun). Panen pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur 70-80 hari, untuk berikutnya 3-7 hari sekali. Setiap tanaman dapat dipanen 13-15 kali.

2. 12 Jujube

Jujube biasa dikenal sebagai Apel Putsa atau Pussa. Bentuk, ukuran dan warnanya seperti buah apel malang hijau atau buah tomat muda. Ukuran buah dapat mencapai ukuran kepalan tangan balita. Daging buahnya seperti apel biasa dengan tekstur halus dan mengandung lebih banyak air. Rasanya manis dan menyegarkan dengan sedikit kandungan gula. Setelah berumur 4-6 bulan, jujube Text Box: Gambar 3.11 Jujubebiasanya sudah dapat dinikmati. Buah yang matang berwarna hijau tua atau hijau kekuningan.

2.13 Buah Naga (Hylocereus undatus)

Text Box: Gambar 3.12 Buah NagaBuah naga berasal dari Taiwan. Buah ini berwarna merah jambu (Pink) dengan daging buah berbagai jenis antara lain berwarna putih, kuning dan merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut. Berat buah rata-rata + 600 s.d 800 gram. Jarak tanam bibit adalah 2,5 x 2 m dan tiap tiang penyangga ditanami 4 bibit tanaman. Untuk 1 hektar lahan dibutuhkan 2000 tiang penyangga dan 8000 bibit. Tanaman akan berbunga pada umur 1,5-2 tahun dan di panen saat mencapai umur 30 hari setelah bunga mekar.

2.14 Srikaya (Annona squamosa)

Text Box: Gambar 3.13 SrikayaSrikaya adalah tanaman yang tergolong ke dalam genus Annona yang berasal dari daerah tropis. Buah srikaya berbentuk bulat dengan kulit bermata banyak (serupa sirsak). Daging buahnya berwarna putih. Srikaya dapat diperbanyak dengan generatif (biji) dan vegetatif (cangkok, okulasi,dll). Srikaya berbuah setelah berumur 3-5 tahun.

BAB III

KESIMPULAN

Tanaman hortikutura dapat menjadi potensi besar bagi Indonesia dalam mengembangkan pertanian. Tanaman hortikutura yang telah dikembangkan adalah tanaman sayur, contohnya sawi, kangkung, selada, kailan, caisin, pare, dan tanaman buah-buahan, contohnya jambu kristal, jujube, buah naga, srikaya. Tanaman-tanaman tersebut memiliki karakter, penanaman hingga masa panen yang bermacam-macam.

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Wadah tanam memiliki 2 fungsi umum yaitu sabagai tempat penanaman sampai tanaman dewasa dan berproduksi, serta untuk pembesaran bibit sebelum tanaman dipindahkan ke lapangan (kebun, taman, rumah kaca, bedengan). Jika ditinjau dari cara penanamannya, wadah tanam dapat dibedakan menjadi wadah untuk tanaman berkelompok dan wadah untuk penanaman individu. Wadah tanaman dapat dibuat dari berbagai macam bahan seperti logam, kayu, gerabah, porselen, maupun plastik. Wadah tanam dari pot dapat berupa pot maupun cukup berupa kantung.
Penanaman dalam wadah mengakibatkan sulit terjadi infiltrasi air tanah, sehingga air merupakan faktor utama yang harus dikelola. Dengan demikian air harus diberikan secara teratur sehingga tanaman tidak mengalami kekurangan air. Air yang diberikan dapat dicampur dengan zat hara (fertigasi). Namun demikian zat hara dapat pula diberikan langsung dengan cara dicampurkan pada waktu pengisian media tanam maupun diberikan secara berkala ke dalam media.

1.2 Tujuan

Tujuan dari budidaya tanaman dalam wadah antara lain
1.        Dapat melakukan budidaya dalam wadah
2.        Dapat menentukan darana produksi yang dibutuhkan: ukuran wadah, kondisi bahan tanaman, jenis dan dosis serta konsentrasi pupuk


BAB II

BAHAN DAN METODE


2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum budidaya dalam wadah dilaksanakan pada Rabu, 6 Oktober 2010 di Kebun Percobaan Cikabayan. Sedangkan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman dilakukan pada Rabu, 10 November 2010.

2.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan antara lain biji buah pepaya (Papaya carica L.) sebanyak 20 biji, biji buah lengkeng 10 buah, biji buah jeruk manis 10 biji, biji albasia kecil 20 biji, biji albasia buto 10 biji, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1, dan air. Adapun alat yang digunakan adalah cangkul, ember dan polybag.

2.3 Metode Pelaksanaan

1.        Setiap kelompok akan menanam 5 jenis tanaman dan masing-masing tanaman  10 polybag sehingga total polybag yang dibutuhkan adalah 50 buah.
2.        Tanaman yang ditanam antara lain pepaya, lengkeng, jeruk manis, albisia kecil dan albisia buto.
3.        Campurkan media tanam yaitu tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan volume 1:1.
4.        Isikan campuran media ke dalam polybag hingga penuh. Karena polybag telah berlubang, maka tidak perlu dilubangi lagi. Pastikan bagian bawah polybag rata sehingga polybag dapat berdiri tegak dan tidak mudah roboh.
5.        Susun polybag di bawah naungan secara teratur sehingga mudah dihitung.
6.        Tanam benih didalam polybag dengan kedalaman 1-2 cm. Masing-masing polybag berisi 1 benih tanaman kecuali untuk tanaman pepaya dan albasia kecil. Yaitu masing-masing polybag ditanam 2 benih.
7.        Siram polybag hingga cukup basah.
8.        Setelah 5 minggu, lakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman.

BAB III

PEMBAHASAN

Budidaya dalam wadah dilakukan dengan menanam beberapa jenis tanaman buah dan tanaman penghijauan. Tanaman buah yang ditanam antara lain pepaya, jeruk manis dan lengkeng. Tanamn penghijauan yang ditanam adalah albisia kecil dan albisia buto. Semua tanaman yang ditanam dalam polybag merupakan tanaman yang menggunakan wadah tanam hanya sebagai media pembibitan. Setelah bibit dirasa cukup besar, maka tanaman akan dipindahkan ke lapangan.
Berikut merupakan hasil daya tumbuh kelima tanaman yang ditanam setelah 5 minggu.
       Tabel 7. Daya tumbuh budidaya dalam wadah
Jenis Tanaman
Jumlah tanaman yang tumbuh
Total tanaman yang ditanam
Daya Tumbuh
Lengkeng
2
10
20%
Albasia buto
1
10
10%
Albasia kecil
3
20
15%
Jeruk manis
4
10
40%
Pepaya
19
20
95%

Dari data, diketahui bahwa pepaya merupakan tanaman yang memiliki daya tumbuh tertinggi yaitu 95%. Sedangkan tanaman lain daya tumbuhnya tidak mencapai 50%. Meski telah ditanam dalam wadah tanam, ternyata biji yang ditanam tidak semuanya tumbuh. Kecilnya daya tumbuh ini dapat disebabkan oleh tidak adanya perawatan terhadap tanaman. Selama 5 minggu, tanaman tidak pernah disiram maupun disiangi gulmanya. Tanaman hanya disiangi saat akan dihitung daya tumbuhnya. Selain itu, faktor lain yang dapat menyebabkan daya tumbuh yang kecil adalah kurang baiknya biji yang digunakan sebagai benih. Seperti lengkeng dan jeruk, biji yang digunakan adalah biji yang baru saja diambil dari buahnya beberapa saat sebelum ditanam tanpa dicuci dahulu. Sehingga masih ada lendir yang menempel pada tanaman. Sedangkan biji albasia buto dan albasia kecil telah cukup lama disimpan. Sehingga memungkinkan daya tumbuhnya telah berkurang.
Seharusnya, penggunaan wadah tanam sebagai media pembesaran bibit efektif untuk meningkatkan daya tumbuh tanaman dan melindungi tanaman dari bahaya luar. Namun tidak demikian jika tidak dirawat dengan baik. Benih yang diharapkan memiliki daya tumbuh yang baik akan memiliki daya tumbuh yang kecil jika tidak dirawat dengan baik.



BAB IV

KESIMPULAN

Budidaya dalam wadah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya tumbuh tanaman dan menghindarkan bibit yang masih kecil dari bahaya luar. Selain itu, dengan budidaya dalam wadah tanaman akan lebih mudah dirawat karena berada pada satu tempat.
















DAFTAR PUSTAKA


Anonim.  Buah Naga.  http://www.wikipedia.co.id.  [31 Januari 2009].
Anonim.  Cokelat.  http://www.wikipedia.co.id.  [31 Januari 2009].
Anonim.  Karet.  http://www.wikipedia.co.id.  [31 Januari 2009].
Anonim.  Kelapa.  http://www.wikipedia.co.id.  [13 Desember 2010].
Anonim.  Pepaya.  http://www.wikipedia.co.id.  [31 Januari 2009].
Anonim.  Srikaya.  http://www.wikipedia.co.id.  [13 Desember 2010].
Anonim.  Budidaya Jagung. http://www.deptan.go.id. [31 Januari 2009].
Anonim.   Budidaya Ubi Jalar. http://www.migroplus.com/brosur/budidaya%20
ubijalar .pdf. [31 Januari 2009].
            Januari 2009].
Anonim. Kangkung.  http://sofian.staff.ugm.ac.id./artikel/kangkung.pdf 
[13 Desember 2010].
Anonim. Pare.  http://www.wikipedia.co.id.  [13 Desember 2010].
Anonim. Teknologi produksi jagung melalui pendekatan pengelolaan sumberdaya dan tanaman terpadu. http://balitsereal.litbang.deptan.go.id. [31 Januari
            2009].
Pramono Bambang R. Jagung. http://www.benss.co.cc. [31 Agustus 2008].
Saptono, Endro dan Agus Andoko. 2005. Bertanam Sayuran Organik, Cetakan 1.
Jakarta: Agromedia Pustaka.
Setyamidjaya, Djoehana. 2000. Teh Budidaya dan Pengolahan Persiapan.
         Yogyakarta: Kanisius.
Widyastuti, Yustina E. dan Adisarwanto T.Meningkatkan Produksi Jagung di
           Lahan Kering, Sawah, dan Pasang Surut.Jakarta:PT. Penebar
          Swadaya.2002. 86 halaman.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar