HAMA
PENTING PADA TANAMAN SAWI/KUBIS
(Laporan Praktikum Hama Penting Tanaman)
Oleh
Darso Waluyo
0914013084

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2011
I.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Peningkatan produksi sayuran di Indonesia sangat diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri guna mengimbangi laju pertambahan
penduduk yang semakin meningkat pula. Selain itu, penting juga adanya upaya
peningkatan produksi sayuran untuk keperluan ekspor dan substitusi. Hal ini
sesuai dengan tujuan utama pembangunan nasional di sektor pertanian yaitu
menaikkan produksi pertanian.
Di antara berbagai jenis hasil pertanian, sayuran merupakan
bahan pangan penting bagi penduduk Indonesia yang diperlukan setiap hari. Di
antara sayuran yang ditanam, kubis (Brassica oleracea var. capitata L.) banyak
diusahakan dan dikonsumsi karena sayuran tersebut dikenal sebagai sumber
vitamin (A, B dan C), mineral, karbohidrat, protein dan lemak yang amat berguna
bagi kesehatan. Seperti beberapa jenis sayuran lainnya, kubis memiliki sifat
mudah rusak, berpola produksi musiman dan tidak tahan disimpan lama. Sifat
mudah rusak ini dapat disebabkan oleh daun yang lunak dan kandungan air cukup
tinggi, sehingga mudah ditembus oleh alat-alat pertanian dan hama/penyakit
tanaman.
Hama ulat daun kubis Plutella xylostella L.
(Lepidoptera: Plutellidae) merupakan salah satu jenis hama utama di pertanaman
kubis. Apabila tidak ada tindakan pengendalian, kerusakan kubis oleh hama tersebut
dapat meningkat dan hasil panen dapat menurun baik jumlah maupun kualitasnya.
Serangan yang timbul kadang-kadang sangat berat sehingga tanaman kubis tidak
membentuk krop dan panennya menjadi gagal.
Kehilangan hasil kubis yang disebabkan oleh serangan hama
dapat mencapai 10-90 persen. Ulat daun kubis P. xylostella bersama
dengan ulat jantung kubis Crocidolomia pavonana F. mampu menyebabkan
kerusakan berat dan dapat menurunkan produksi kubis sebesar 79,81 persen.
Kondisi seperti ini tentu saja merugikan petani sebagai produsen kubis. Oleh
karena itu upaya pengendalian hama daun kubis ini sebagai hama utama tanaman
kubis perlu dilakukan untuk mencegah dan menekan kerugian akibat serangan hama
tersebut.
Petani pada umumnya mengatasi
gangguan ulat kubis dengan menggunakan insektisida kimia sintetik. Ditinjau
dari segi penekanan populasi hama, pengendalian secara kimiawi dengan
insektisida memang cepat dirasakan hasilnya, terutama pada areal yang luas.
Tetapi, selain memberikan keuntungan ternyata penggunaan insektisida yang
serampangan atau tidak bijaksana dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan
Hasil survai pada petani sayuran menyebutkan bahwa petani mengeluarkan 50
persen biaya produksi untuk pengendalian secara kimiawi dengan mencampur
berbagai macam pestisida, karena belum diketahui bagaimana penggunaan pestisida
yang tepat.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
hama penting pada tanaman kubis
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
Tanaman pertanian sejak
awal pertumbuhan sering diserang hama dan penyebab penyakit yang merugikan.
Tananam kubis krop sering diserang hama ulat Plutela xylostella dan
Crocidolomia binotalis yang dapat berakibat gagal panen. Serangan hama ulat
tersebut pada musim kemarau dapat mencapai 100 % (Cahyono, 1995).
P.
xylostella dikenal sebagai ulat tritip yang menyerang baik
pada tanaman muda maupun tanaman dewasa. Siklus hidup hama ini tergolong sempurna
yaitu telur – larva – pupa – kupu-kupu. Hama ini tidak hanya menyerang kubis
tetapi juga lobak dan tanaman lainnya (Rukmana, 1998).
C.
binotalis adalah nama lain dari ulat kubis krop. Hama ini
juga menyerang tanaman sawi, petsai, lobak dan tanaman lainnya. Hama ini juga
mengalami siklus hidup yang sempurna. Larva atau ulatnya berwarna hijau dan
punggungnya tampak garis-garis hijau muda, dibagian bawah terdapat
rambut-rambut hitam. Panjang ulat ini mencapai 18 mm, dapat bergerak ke seluruh
tanaman. Hama ini terutama menyerang titik tumbuh, sehingga tanman muda tidak
dapat membentuk tunas baru dan menyebabkan matinya tanaman (Pracaya, 1997).
Serangga merupakan salah satu hama yang banyak menyerang tanaman
dan serangan paling besar yang ditimbulkan oleh serangga hama adalah pada fase
larva. Fase larva merupakan fase paling aktif dari serangga karena pada fase
tersebut serangga membutuhkan makanan lebih banyak untuk kelangsungan hidupnya.
Larva Crocidolomia pavonana telah menimbulkan kerusakan pada tanaman kubis dan
dibutuhkan pengendalian yang tepat untuk mengurangi serangannya ( Sastrosiswojo
& Setiawati 1993).
III.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
- Hasil Pengamatan
No
|
Gejala
|
Keterangan
|
1
|
![]() |
|
2
|
Imago Plutella xylostella
![]() |
|
3
|
![]() |
|
![]() |
Gejala Plutella xylostella
|
|
- Pembahasan
a.
Plutella
xylostella
Klasifikasi Plutella xylostella L. Sebagai
berikut:
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo :
Lepidoptera
Famili : Plutellidae
Genus : Plutella
Spesies : Plutella xylostella L.
Plutella xylostella L. tergolong dalam ordo Lepidoptera, famili Plutellidae, Plutella
xylostella mempunyai nama lain yaitu Plutella maculipennis,
atau disebut juga ulat tritip, tanaman inangnya, antara lain kubis, lobak,
sawi, kolhrabi, kubis bunga, kubis kale, kubis tunas dan tanaman lain yang
termasuk keluarga Cruciferae.
Dalam perkembangan nya Plutella xylostella
mengalami metamorfosis sempurna (Holometabola), yaitu stadium telur, larva,
pupa, imago, lebih jelasnya:
- Imago
Imagonya berupa ngengat kecil berwarna coklat kelabu. Pada sayap depan terdapat tanda tiga berlian yang berupa
gelombang (undulasi). Warna berlian pada ngengat betina lebih gelap
dibandingkan dengan ngengat jantan. Lamanya siklus (daur hidup) ± 21 hari,
ngengatnya aktif pada senja dan malam hari.
- Telur
Bentuk telur bulat panjang, lebar 0,26 mm dan panjang
0,49 mm. Telurnya kecil, putih kekuningan diletakkan pada permukaan bawah daun
dalam kelompok 10-20 butir atau 3-4 butir .
- Larva
Ulat yang baru menetas berwarna hijau pucat,
sedangkan yang telah besar warnanya lebih tua dengan kepala lebih pucat .
Larva Plutella xylostella mudah dibedakan dengan larva serangga hama
lainnya karena larva ini tidak mempunyai garis membujur pada tubuhnya, larva
terdiri atas empat instar.
d. Pupa
Setelah cukup tua ulat mulai berkepompong, sarang
kepompong dibuat dari sejenis benang sutera yang berwarna abu-abu putih pada
bagian bawah permukaan daun. Pembentukan sarang kepompong mula-mula dibuat dari
dasar, kemudian sisi depan dan tutupnya. Pada ujung masih ada lubang kecil untuk pernapasan.
Pengendalian
ulat kubis dapat dilakukan dengan cara mekanis, kimiawi dengan insektisida
kimia sintetik selektif maupun insektisida nabati, pola bercocok tanam
(tumpangsari, rotasi, irigasi, penanaman yang bersih), penggunaan tanaman
tahan, pemakaian feromon, pengendalian hayati menggunakan predator, parasitoid
(misalnya dengan Diadegma semiclausum Helen, Cotesia plutellae
Kurdj., dll.), patogen (misalnya pemakaian bakteri B. thuringiensis,
jamur Beauveria bassiana, dsb.) serta aplikasi program PHT.
Aplikasi PHT Praktis:
Aplikasi PHT Praktis:
Kultur
Teknik
Musim tanam. Lebih baik untuk menanam kubis dan brasika lain pada musim hujan, karena populasi hama tersebut dapat dihambat oleh curah hujan.
Irigasi. Apabila tersedia dapat digunakan irigasi sprinkle untuk mengurangi populasi ulat daun kubis, apabila pengairan demikian dilaksanakan pada petang hari, dapat membatasi aktivitas ngengat.
Penanaman. Sebaiknya tidak melakukan penanaman berkali-kali pada areal sama, karena tanaman yang lebih tua dapat menjadi inokulum bagi tanaman baru.
Musim tanam. Lebih baik untuk menanam kubis dan brasika lain pada musim hujan, karena populasi hama tersebut dapat dihambat oleh curah hujan.
Irigasi. Apabila tersedia dapat digunakan irigasi sprinkle untuk mengurangi populasi ulat daun kubis, apabila pengairan demikian dilaksanakan pada petang hari, dapat membatasi aktivitas ngengat.
Penanaman. Sebaiknya tidak melakukan penanaman berkali-kali pada areal sama, karena tanaman yang lebih tua dapat menjadi inokulum bagi tanaman baru.
Apabila
terpaksa menanam beberapa kali pada areal sama, tanaman muda ditanam pada arah
angin yang berlawanan agar ngengat susah terbang menuju ke tanaman muda.
Pesemaian. Tempat pembibitan harus jauh dari areal tanaman yang sudah tumbuh besar. Sebaiknya pesemaian/bibit harus bebas dari hama ini sebelum transplanting ke lapangan. Dalam beberapa kasus, serangan ulat daun kubis di lapangan diawali dari pesemaian yang terinfestasi dengan hama tersebut.
Tanaman perangkap. Tanaman brasika tertentu seperti caisin lebih peka dapat ditanam sebagai border untuk dijadikan tanaman perangkap, dengan maksud agar hama ulat daun kubis terfokus pada tanaman perangkap.
Tumpang sari. Penanaman kubis secara tumpang sari bersamaan dengan tanaman yang tidak disukai hama ulat daun kubis dapat mengurangi serangannya. Misalnya tumpang sari kubis kubis dengan tanaman tomat/bawang daun.
Monitoring
Selama menanam kubis petani perlu melakukan pemantauan/monitoring hama dengan melakukan pengamatan mingguan. Apabila hama mencapai 1 ulat/10 tanaman (Ambang Ekonomi = AE) atau lebih, maka dapat dilakukan dengan menyemprot tanaman menggunakan insektisida kimia selektif atau bioinsektisida, untuk menekan agar hama kembali berada di bawah AE yang tidak merugikan secara ekonomi.
Penggunaan Agensia Hayati
Hama tersebut memiliki musuh alami berupa predator (Paederus sp., Harpalus sp.), parasitoid (Diadegma semiclausum, Cotesia plutellae), dan patogen (Bacillus thuringiensis, Beauveria bassiana) yang bila diaplikasikan dapat menekan populasi dan serangannya.
Pesemaian. Tempat pembibitan harus jauh dari areal tanaman yang sudah tumbuh besar. Sebaiknya pesemaian/bibit harus bebas dari hama ini sebelum transplanting ke lapangan. Dalam beberapa kasus, serangan ulat daun kubis di lapangan diawali dari pesemaian yang terinfestasi dengan hama tersebut.
Tanaman perangkap. Tanaman brasika tertentu seperti caisin lebih peka dapat ditanam sebagai border untuk dijadikan tanaman perangkap, dengan maksud agar hama ulat daun kubis terfokus pada tanaman perangkap.
Tumpang sari. Penanaman kubis secara tumpang sari bersamaan dengan tanaman yang tidak disukai hama ulat daun kubis dapat mengurangi serangannya. Misalnya tumpang sari kubis kubis dengan tanaman tomat/bawang daun.
Monitoring
Selama menanam kubis petani perlu melakukan pemantauan/monitoring hama dengan melakukan pengamatan mingguan. Apabila hama mencapai 1 ulat/10 tanaman (Ambang Ekonomi = AE) atau lebih, maka dapat dilakukan dengan menyemprot tanaman menggunakan insektisida kimia selektif atau bioinsektisida, untuk menekan agar hama kembali berada di bawah AE yang tidak merugikan secara ekonomi.
Penggunaan Agensia Hayati
Hama tersebut memiliki musuh alami berupa predator (Paederus sp., Harpalus sp.), parasitoid (Diadegma semiclausum, Cotesia plutellae), dan patogen (Bacillus thuringiensis, Beauveria bassiana) yang bila diaplikasikan dapat menekan populasi dan serangannya.
Mekanis
Cara ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan hama yang bersangkutan, memasukkan ke dalam kantung plastic, dan memusnahkannya. Namun untuk areal luas perlu pertimbangan tenaga dan waktu.
Penggunaan Insektisida Selektif
Aplikasi ini dilaksanakan setelah hama tersebut mencapai atau melewati ambang ekonomi, dengan memilih insektisida kimia selektif yang efektif tetapi mudah terurai, atau penggunaan insektisida biologi.
Cara ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan hama yang bersangkutan, memasukkan ke dalam kantung plastic, dan memusnahkannya. Namun untuk areal luas perlu pertimbangan tenaga dan waktu.
Penggunaan Insektisida Selektif
Aplikasi ini dilaksanakan setelah hama tersebut mencapai atau melewati ambang ekonomi, dengan memilih insektisida kimia selektif yang efektif tetapi mudah terurai, atau penggunaan insektisida biologi.
Klasifikasi
hama ini adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Subfamili
: Pyraustinae
Genus
: Crocidolomia
Telurnya
diletakkan di balik daun secara berkelompok, jumlah tiap kelompok sekitar 11 - 18,
dan setiap kelompok berisi sekitar 30 - 80 butir telur. Telur berbentuk pipih
dan menyerupai genteng rumah, berwarna jernih. Diameter telur berkisar antara
1-2 mm. Stadium telur berlangsung selama 3 hari.
Larva
yang baru menetas hidup berkelompok di balik daun. Sesudah 4 - 5 hari, mereka
bergerak ke titik tumbuh. Ulat yang baru menetas berwarna kelabu, kemudian
berubah menjadi hijau muda. Pada punggungnya ada 3 baris putih
kekuning-kuningan dan dua garis di samping, kepalanya berwarna hitam. Panjang ulat
sekitar 18 mm. Punggungnya ada garis berwarna hijau muda. Sisi kiri dan kanan
punggung warnanya lebih tua dan ada rambut dari kitin yang warnanya hitam.
Bagian sisi perut berwarna kuning. Ada juga yang warnanya kuning disertai
rambut hijau.
Pupa
terletak dalam tanah di dekat pangkal batang inang. Panjang pupa sekitar 8,5 -
10,5 mm, berwarna hijau pudar dan coklat muda, kemudian berubah menjadi coklat
tua seperti tembaga.
Imago
jantan lebih besar dan lebih lebih panjang sedikitdaripada yang betina. Warna
sayap muka krem dengan bercak abu-abu coklat. Ngengat jantan berambut hitam
berumbia-rumbia di tepi masing-masing sayap muka di samping kepala, yang betina
kurang rimbun. Lama hidup untuk ngengat betina sekitar 16 - 24 hari. Daur
hidupnya sekitar 22 - 30 hari. Panjang larva dapat mencapai 18 - 25 mm.
Crocidolomia
binotalis Zell merusak tanaman dari
stadia larva atau ketika masih menjadi ulat .
Larva
kecil memakan bagian bawah daun dengan meninggalkan bekas berupa bercak putih.
Lapisan epidermis permukaan atas daun biasanya tidak ikut dimakan dan akan
berlubang setelah lapisan tersebut kering serta hanya tinggal tulang-tulang
daunnya. Bila bagian pucuk yang terserang maka tanaman tidak dapat membentuk
krop sama sekali.
Larva
instar II mulai memencar dan menyerang daun bagian lebih dalam dan sering kali
masuk ke dalam pucuk tanaman serta menghancurkan titik tumbuh. Apabila serangan
terjadi pada tanaman kubis yang telah membentik krop, larva yang telah mencapai
instar III akan menggerek ke dalam krop dan merusak bagain tersebut, sehingga
dapat menurunkan nilai ekonominya.
Tidak jarang juga akan sering terjadi pembusukan
krop karena serangan tersebut yang diikuti oleh serangan skunder yaitu oleh
jamur. Ulat krop kubis lebih banyak ditemukan pda pertanaman yang telah
membentuk krop, yaitu pada tanaman berumur 7- 11 minggu setelah tanam.
Tanaman
kubis atau sawi yang diserang ulat ini selain rusak dan daunnya habis dimakan,
tanaman juga menjadi rusak dengan adanya sisa-sisa kotoran bekas ulat makan.
Bila telur dalam kelompok menetas, sekitar 300 ulat akan makan titik tumbuh
sempurna. Ulat akan menyerang dengan cepat pada tanaman lainnya sehingga ulat ini
merupakan hama yang berbahaya bagi tanaman sawi besar dan kol.
Pengendalian
hama ini antara lain dengan cara sebagai berikut:
Secara
Biologi
Pengendalain
secara biologi dapat menggunakan musih alami, musuh alami dari Crocidolomia
binotalis Zell. antara lain adalah:
Secara
Fisik
Kelompok telur dan
larva yang baru saja menetas diambil dan dimusnahkan. Gerombolan ulat tersebut
dapat diambil dengan lidi yang diruncingi dan mengambil telur beserta sedikit
daun, kemudian dimasukkan dalam suatu wadah untuk diberikan pada ayam atau
dimusnahkan dengan cara dibakar. Pengambilan telur dan kelompok ulat tersebut
paling tidak dilakukan dua kali setiap minggunya.
Secara Kultur Teknis
Menanam
pada waktu musim hujan karena populasi hama ini paling rendah (sedikit).Penyemprotan
dengan ekstrak biji nimba dan tuba.
Secara Kimia
Pengendalian
secara kimia dapat adalah tekhnik pengendalain akhir yang dilakuakn setelah
pengendalain yang lain tidak dapat lagi mencegah adanya hama tersebut, dapat
menggunakan insektida sistemik.
IV.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagi berikut:
1.
Hama Plutella
xylostella dan Crocidolomia binatalis
merupakan hama yang paling sering menimbulkan kerugian pada budidaya tanaman
kubis/sawi.
2.
Hama Plutella
xylostella menyerang tanaman sawi dan kubis dengan cara memakan bagain
bawah daun sehingga tinggal epidermis bagian atas saja.
3.
Hama Crocidolomia
binatalis menyerang tanaman kubis dan
sawi dengan cara memakan bagian bawah daun dengan meninggalkan bekas
berupa bercak putih serta menyerang daun bagian lebih dalam dan sering kali
masuk ke dalam pucuk tanaman serta menghancurkan titik tumbuh.
4.
Baik hama Crocidolomia binatalis maupun hama Plutella
xylostella menyerang kubis dan sawi pada saat fase larva.
5.
Pengendalian hama ini dapat dilakuan dengan
cara biologi, fisik, kultur
teknis,maupun Secara Kimia.
6.
DAFTAR
PUSTAKA
Cahyono, B. 1995. Cara Meningkatkan
Budidaya Kubis. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.
Pracaya. 1997. Hama dan Penyakit
Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
———. 2001. Kol AliasKubis. Jakarta: Penebar Swadaya. Edisi
Revisi. 70 hal.
Rukmana. 2001 Bertanam kubis. Yogyakarta: Kanisius 68 hal.
Sastrosiswojo S, Setiawati W. 1993.
Biology and control of Crocidolomia
binotalis in Indonesia Bandung:
Balithor Lembang. (9) Hlm 81-87.
hahahaha, senior 09 agt ...
BalasHapusagt satu , agt jaya , agt bisa !!!
Numpang komen juga mas, salam sukses
BalasHapusokeeee...salam knal juga..sering2 mampir gan..
Hapustrimakasih para pakar yg mau berbagi ilmu yng bermanfaat
BalasHapus