PENGARUH BEBERAPA TINGKAT DEFOLIASI TANAMAN
KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL
PRODUKSI
Oleh: Grup V
Dani Bayu Aji RN 0914013082
Darso Waluyo 0914013084
Emma Halimaturosidah 0914013093
Ezed Qyoko Wahyuni P 0914013096

AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
JUNI 2011
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK
DAFTAR GAMBAR
I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kedelai
(kadang-kadang ditambah "kacang" di depan namanya) adalah salah satu
tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur
seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini
telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai putih
diperkenalkan ke Nusantara oleh pendatang dari Cina sejak maraknya perdagangan
dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah dikenal lama orang penduduk
setempat. Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati
dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai
praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910 (Wikipedia,
2011).
Kedelai yang
dibudidayakan biasanya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max yang biasanya disebut
kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau, dan Glycine soja atau sering dikenal kedelai
hitam, berbiji hitam. Kedelai putih merupakan tanaman asli daerah Asia
subtropik seperti RRC dan Jepang selatan, sementara kedelai hitam merupakan
tanaman asli Asia tropis di Asia Tenggara. Tanaman ini telah menyebar ke
Jepang, Korea, Asia Tenggara dan Indonesia. Beberapa kultivar kedelai putih
budidaya di Indonesia, di antaranya adalah 'Ringgit', 'Orba', 'Lokon',
'Darros', dan 'Wilis'. "Edamame" adalah sejenis kedelai berbiji besar
berwarna hijau yang belum lama dikenal di Indonesia dan berasal dari Jepang.
Peningkatan produksi
kacang kedelai dilakukan dengan cara memperbaiki kultur teknis petani atau cara
budidaya, untuk mendapatkan varietas-varietas yang produksinya tinggi serta
peningkatan pengelolaan lepas panen. Salah satunya adalah dengan dilakukannya
defoliasi. Menurut Suwarso (2010), Defoliasi ialah pemotongan atau pengambilan
bagian tanaman yang ada di atas permukaan tanah, baik oleh manusia maupun oleh
renggutan hewan itu sendiri di waktu ternak itu digembalakan.
Biasanya defoliasi
dapat dilakukan pada waktu tertentu, yaitu :
a)
Periode perkecambahan atau awal pertumbuhan
Yaitu
periode di mana tanaman mulai tumbuh. Jika defoliasi dilakukan pada periode
ini, maka hijauan tersebut nilai gizinya relative tinggi dan serat kasarnya pun
masih rendah. Untuk mempertahankan agar supay hijauan tetap dalam keadaan muda,
makam tanaman harus sering dipotong. Tetapi defoliasi yang dilakukan pada
periode ini kurang menguntungkan, karena akan memperlemah pertumbuhan kembali,
dengan demikian tanaman tak ada kesempatan tumbuh kemali dengan baik, sehingga
tanaman liar akan tumbuh subur.
b)
Periode vegetatif
Periode
vegetatif yaitu periode sesudah awal pertumbuhan sampai menjelang berbunga.
Jika defoliasi terhadap tanaman dilakukan pada periode ini sungguh sangat tepat
atau merupakan saat pemotongan yang optimal, sebab kandungan nilai gizi tananam
masih cukup tinggi, belum banyak yang hilang menjadi buah (biji). Selain itu
kandungan serat kasarnya belum begitu tinggi. Jika dilakukan defoliasi pada
periode ini, kesempatan untuk tumbuh kembali masih baik.
c)
Periode berbuah
Yakni
periode di mana tanaman sudah mulai membentuk biji. Pada periode ini kandungan
serat kasar tanaman sangat tinggi. Hal ini kiranya bisa dimaklumi karena
semakin tua tanaman akan semakin banyak serabut yang digenangi oleh lignin yang
mengeraskannya, sehingga kebanyakan dari sel-sel tanaman itu diselubungi oleh
zat yang tak dapat dicerna dan itulah sebabnya nilai gizi makanan akan menurun
pula. Dengan sebagian besar zat-zat makanan yang berguna bagi keperluan hewan
sudah hilang untuk pembentukan biji. Maka suatu hal yang kurang tepat apabila
defoliasi itu dilakukan pada periode ini.
Defoliasi yang tepat
dapat mengalihkan fotosintat pada perkembangan generatif. Informasi tentang
defoliasi atau pengurangan daun pada tanaman kacang kedelai masih
jarang-berkenaan dengan hasil tersebut, maka perlu dilakukan percobaan yang
berkaitan dengan defoliasi daun yang berhubungan dengan beberapa varietas
tanaman kacang hijau.
1.2. Tujuan
Adapun dilakukan
percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui pengaruh tingkat defoliasi tanaman
kedelai terhadap pertumbuhan dan hasil produksi.
2.
Mengetahui
kapan waktu terbaik untuk melakukan defoliasi tanaman kedelai untuk mendapatkan
hasil produksi yang optimum.
1.3. Hipotesis
Dari beberapa
informasi yang telah dilakukan, perlakuan defoliasi 66% dari masa pembungaan
sampai masa pengisian polong akan memberikan pengaruh pertumbuhan dan hasil
produksi yang paling rendah.
II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
2.1. Waktu dan tempat
Adapun waktu
pelaksanaan praktikum produksi tanaman pangan adalah dari tanggal 1 Februari
2011 dan dilaksanakan setiap hari Selasa pukul 08.00-10.00 wib. Tempat
pelaksanaan praktikum adalah lahan yang terletak di belakang Masjid Al-Wasii,
Universitas Lampung, Bandar Lampung.
2.2. Alat dan bahan
Adapun alat-alat yang
digunakan pada saat praktikum produksi tanaman pangan adalah sabit, cangkul,
tali rafia, gembor, gunting, batang kayu. Sedangkan bahan yang digunakan adalah
benih kedelai varietas Anjasmoro.
2.3. Metodologi
praktikum
2.3.1. Metode
Perlakuan tanaman
yang dilakukan pada masing-masing kelompok tanaman kedelai adalah sebagai
berikut:
Kelompok 1 :
defoliasi 33% dari sebelum pembungaan sampai pembungaan.
Kelompok 2 :
defoliasi 66% dari sebelum pembungaan sampai pembungaan.
Kelompok 3 : tanpa
defoliasi (normal)
Kelompok 4 :
defoliasi 33% dari saat pembungaan sampai pengisian polong
Kelompok 5 : defoliasi
66% dari saat pembungaan sampai pengisian polong
2.3.2. Pelaksanaan
praktikum
Tempat untuk
pelaksanaan praktikum produksi tanaman pangan adalah lahan di belakang Masjid
Al-Wasii Universitas Lampung. Lahan kosong ini ditumbuhi rumput liar dan alang-alang
yang cukup tinggi sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dilakukan
pengolahan tanah. Olah tanah yang dilakukan pertama kali adalah pembabatan
rumput liar dan alang-alang dengan bantuan alat sabit, setelah itu lahan
dibajak, dan Kemudian penempatan plot
dilakukan berurutan mulai dari kelompok 1 hingga kelompok 9. Kelompok 1-5
menanam benih kedelai, sedangkan kelompok 6-9 menanam benih sorgum dengan
perbedaan varietas di setiap kelompok. Pemberian benih dan varietas setiap
kelompok ditentukan oleh dosen. Pemilihan benih dilakukan agar mendapatkan
benih-benih yang cukup baik untuk ditanam pada lahan praktikum. Seed treatment
juga dilakukan pada varietas tertentu dimana ada varietas yang disimpan dalam
kulkas maupun tempat penyimpanan benih yang cukup baik.
Ukuran lahan yang
digunakan adalah 3 x 3 m. Jarak tanam yang digunakan pada praktikum tanaman
sorgum adalah 25 cm x 25 cm. Tanggal 24 Februari 2011, dilakukan penyiapan
lubang tanam (penugalan) dengan penanaman benih kedelai 2-3 butir per lubang,
dan dilakukan penyiraman setiap hari, terutama pada awal pertumbuhan tanaman.
Pada tanggal 25 dan 26 Februari 2011, dilakukan penyiangan gulma dan penyiraman
tanaman. Tanggal 27 Februari 2011 terjadi hujan pada pukul 19.00-20.00 wib.
Pada tanggal 28 Februari 2011, dilakukan penyiangan gulma, benih sudah tumbuh
sekitar 90% . Pada tanggal 1 Maret 2011, dilakukan penyulaman pada tanaman
kedelai yang belum tumbuh untuk semua kelompok kedelai. Sedangkan hari lain
dilakukan penyiraman biasa dan melakukan pengamatan. Pada tanggal 8 Maret, kegiatan yang dilakukan
yaitu memberikan furadan pada lahan tanaman kedelai untuk menghindari
kemungkinan adanya gangguan dari semut, serta setiap kelompok tanaman kedelai
melakukan pemilihan sampel tanaman. Tanaman sampel berjumlah 10 tanaman yang
dipilih secara acak. Pengambilan sampel dilakukan untuk menentukan pengukuran
tinggi dan jumlah daun tanaman kedelai. Tanggal 9 Maret 2011 terjadi hujan
pukul 12.20 wib, tanggal 11, 13, dan 14 Maret 2011 terjadi hujan di waktu yang
berbeda mulai dari 06.10 wib, 16.30 wib, dan 19.00 wib. Pada tanggal 15 Maret
2011 dan tanggal 22 Maret 2011, kegiatan yang dilakukan seperti biasa yaitu
pembersihan lahan dari gulma dan pengukuran tinggi dan jumlah tanaman sampel
seta pengarahan dari dosen. Dan pada
tanggal 25 Maret 2011 dilakukan pemupukan , pupuk yang digunakan untuk tanaman
kedelai yaitu Urea 45 gram, SP36 90 gram, dan KCL 90 gram. Pemupukan diberikan
dengan cara membuat larikan kemudian pupuk ditutup dengan tanah yang
dimaksudkan agar pupuk yang diberikan tidak menguap. Pada tanggal 29 Maret,
kegiatan yang dilakukan yaitu pengukuran tinggi dan jumlah daun tanaman sampel,
serta pembersihan lahan dari gulma. Pada tanggal 10 Mei, dilakukan perhitungan
polong pada setiap tanaman sampel. Sampai pada tanggal 24 Mei 2011, tanaman
kedelai sudah panen, dan kegiatan yang dilakukan pada saat tanaman kedelai
panen yaitu menghitung jumlah polong setiap tanaman sampel dan polong tersebut
dimasukkan ke dalam amplop dan diberikan label, kemudian berangkasan
masing-masing sampel dimasukkan ke dalam amplop dan diberi label. Amplop-amplop
tersebut dijemur di rumah kaca, kemudian ditunggu selama 1 minggu sampai
kering. Pada tanggal 17 Mei, amplop-amplop tersebut kemudian ditimbang dan
dicatat beratnya.
III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Data
pengamatan tinggi tanaman kedelai
Perlakuan
|
Pengamatan
|
||||
Minggu 1
|
Minggu 2
|
Minggu 3
|
Minggu 4
|
Minggu 5
|
|
D0
|
14,0
|
18,9
|
27,3
|
42,9
|
61,1
|
D1
|
12,9
|
19,1
|
28,6
|
43,3
|
59,9
|
D2
|
12,6
|
17,2
|
25,8
|
40,4
|
51,8
|
D3
|
10,4
|
17,5
|
26,4
|
35,9
|
50,4
|
D4
|
10,3
|
17,1
|
25,7
|
41,8
|
58,5
|
Grafik 1. Data pengamatan tinggi tanaman kedelai

Grafik 2. Data
pengamatan tinggi tanaman kedelai

Tabel
2. Data pengamatan jumlah daun tanaman kedelai
Perlakuan
|
Pengamatan
|
||||
Minggu 1
|
Minggu 2
|
Minggu 3
|
Minggu 4
|
Minggu 5
|
|
D0
|
2,3
|
4,4
|
6,8
|
8,9
|
10,4
|
D1
|
2,1
|
2,4
|
4,4
|
6,1
|
9,4
|
D2
|
2,0
|
3,0
|
4,0
|
5,0
|
6,0
|
D3
|
1,3
|
2,2
|
3,4
|
6,2
|
7,5
|
D4
|
1,4
|
1,95
|
4,3
|
7,2
|
8,3
|
Grafik
3. Data pengamatan jumlah daun tanaman kedelai

Grafik
4. Data pengamatan jumlah daun tanaman kedelai

Tabel
3. Data pengamatan jumlah polong tanaman kedelai
Perlakuan
|
Pengamatan
|
|
10-Mei-11
|
24-Mei-11
|
|
D0
|
57,1
|
43,4
|
D1
|
63,1
|
47,7
|
D2
|
55,1
|
43,0
|
D3
|
39,7
|
31,2
|
D4
|
56,9
|
60,0
|
Grafik
5. Data pengamatan jumlah polong tanaman kedelai

Grafik
6. Data pengamatan jumlah polong tanaman kedelai

Tabel
4. Data pengamatan berat kering tanaman
perlakuan
|
Berat kering
(g)
|
|
polong
|
Brangkasan
|
|
D0
|
19,3
|
13,43
|
D1
|
20,3
|
15,9
|
D2
|
19
|
14,2
|
D3
|
16,4
|
12,23
|
D4
|
23,07
|
16,05
|
Grafik
7. Data pengamatan berat kering tanaman

Grafik
8. Data pengamatan berat kering tanaman

Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang diperoleh terlihat
bahwa tinggi tanaman mempunyai tinggi dari interval 50 cm sampai dengan 61 cm.
tanaman tanpa perlakuan (D0) memiliki tinggi tanaman paling tinggi yaitu 61,1
cm dan disusul oleh tanaman kedelai defoliasi 33 % sebelum pembunggan sampai
pembungaan(D1) dengan tinggi 59,9 cm. Sedangkan kolompok kami yaitu perlakuan (D4)
defoliasi 66% setelah pembungaan sampai pengisian polong memiliki tinggi 58,5
cm. Hal ini mungkin disebabkan karena
Demikian juga halnya pada jumlah daun. Tanaman tanpa
perlakuan D0 memiliki jumlah daun 10 helai. Pada tanaman dengan perlakuan
defoliasi 33% sebelum pembungaan dengan jumlah daun 9 helai. Disusul dengan
kelompok kami yaitu perlakuaan (D4) defoliasi 33% dari pembungaan sampai dengan
pengisian polong memiliki jumlah daun sebanyak 8 helai. Dapat kita lihat bahwa
tinggi tanaman berkorelasi fpositif dengan jumlah daun. Semakin tinggi tanaman,
semakin banyak pula jumlah daunnya.
Pada data jumlah polong, kami melakukan dua
kali pengamatan. Pengamatan pertama dilakukan pada tanggal 10 mei 2011.
Pengamatan ini dilakukan ketika polong masih berada di tanaman. Untuk tanaman
dengan jumlah polong terbanyak terdapat pada tanaman dengan perlakuaan
defoliasi 33% sebelum pembungaan (D1) dengan jumlah polong 63 buah. Sedangkan
tanaman tanpa perlakuaan (D0) memiliki jumlah polong sebanyak 57 buah. Perlakuaan
tanaman (D4) defoliasi tanaman 66% setelah pembungaan sampai dengan pengisiaan
polong yang merupakan kelompok kami, memiliki jumlah polong sebanyak 57 buah.
Dan tanaman yang memiliki jumlah polong paling sedikit adalah perlakuaan (D3)
defoliasi 33% setelah pembungaan sampai pengisian polong. Pada pengamatan kedua
yang dilakukan pada tanggal 24 mei 2011 yaitu pada saat sebelum dikeringkan,
didapatkan bahwa jumlah polong yang paling banyak didapat pada perlakuan (D4)
defoliasi tanaman 66% setelah pembungaan sampai dengan pengisian polong denagn
jumlah 60 buah polong. Sedangkan jumlah polong yang paling sedikit terdapat
pada perlakuaan (D3) defoliasi 33% setelah pembungaan sampai dengan pengisian
polong dengan jumlah 31 buah polong. Perbedaan ini mungkin desebabkan oleh
beebraa faktor, diantaranya yaitu jatuhnya buah polong sebelum dipanen sehingga
pada penghitungan kedua, jumlahnya semakin sedikit/berkurang. Selain itu, pada
saat pengukuran pertama, tanaman belum berbuah secara sempurna( belum berbuah
semua), sehingga pada saat penghitungan polong kedua jumlahnya menjadi
bertambah.
Pengamatan terakhir yaitu pengamatan berat
brangkas dan berat polong masing-masing perlakuan. Diperoleh berat polong
terberat pada perlakuan (D4) defoliasi 66% setelah pembungaan sampai dengan
pengisian polong seberat 23,07 gram dan dengan berat brangkas 16,05 gram. Sedangkan
tanpa perlakuaan (D0) memiliki berat polong 19,3 gram dan berat brangkas 13,43
gram. Dan perat polong yang paling rendah yaitu perlakuan (D3) defoliasi 66%
setelah pembungaan sampai dengan pengisian polong seberat 16.4 gram untuk
polong dan 12,23 gram untuk berat brangkas. Dapat kita lihat, bahwa berat
polong berkorelasi positif dengan berat brangkas brangkas dan jumlah biji.
TINNEST OF TINNEST OF TINNEST OF TINNEST OF TINNEST OF TINNEST OF TINNEST
BalasHapusTINNEST OF TINNEST OF TINNEST OF TINNEST OF TINNEST OF titanium white dominus price TINNEST OF babylisspro nano titanium TINNEST OF TINNEST OF nano titanium flat iron TINNEST OF ford focus titanium hatchback TINNEST OF TINNIT. $100.00. TINNEST OF TINNEST titanium suppressor OF TINNIT.